Dosen Sosiologi Fisip UNILA, Maruly Bongkar Kebusukan Wadek III di Medsos

BANDAR LAMPUNG (PBO)-Dosen Sosiologi Fisip Universitas Lampung (UNILA), Maruly Hendra Utama RI, bongkar kasus dugaan pemerasan yang dilakukan oleh, Wadek III Fisip universitas setempat, Dadang Karya Bakhti melalui media sosial (Medsos).

Melalui jejaring sosial, Maruly menceritakan jika telah terjadi praktek dugaan penipuan yang dilakukan oleh sejumlah oknum petinggi UNILA, yang telah merugikan para doses dan bisa membahayakan para mahasiswa jika kejadian tersebut dibiarkan.

Bahkan Maruly juga, melalui Medsos menggambarkan kebobrokan perbuatan para oknum pejabat UNILA yang telah membiarkan perbuatan pemerasan tumbuh sumbur dengan bebas melakukan sejumlah tindak kejahatan yang mengarah pada perbuatan tindak pidana Kolusi, Korupsi dan Nepotisme (KKN).

Melalui surat terbuka di media sosial, Maruly juga mengundang para awak media untuk melakukan jumpa pers yang dilaksanakan di Kantin DPRD Provinsi Lampung, pada hari Senin (6/2/2017), untuk menceritakan kejadian tersebut.

Dalam surat terbukanya Maruly menjelaskan, adapun materi yang akan disampaikan berkaitan dengan, laporan secara lisan dan tertulis kepada Dekan Fisip dan Rektor UNILA atas pemerasan senator UNILA yang tidak direspon secara positif, bahkan pemeras tersebut dilantik menjadi Wadek III Fisip UNILA.

“Posisi orang ini jelas membahayakan bagi orangtua dan mahasiswa Fisip UNILA karena dikhawatirkan setiap kebijakannya penuh nuansa transaksional selain dia bisa mengajari mahasiswa teknik memeras yang sangat halus. Saya korbannya!,”tegas Maruly, melalui surat terbuka yang ditulis pada akun fb nya.

Maruly mengatakan, hanya di kampus kita bisa menikmati kemewahan yang dimiliki: Idealisme!. Untuk menjaga idealisme tetap tumbuh dan berkembang di Kampus UNILA maka dirinya mengundang para awak media.

Dalam jejaring sosial juga, Maruly menceritakan kronologi ringkas terkait masalah yang menimpa dirinya. Dia menceritakan tepat pukul: 9.00 WIB, dirinya masuk ruangan rapat disebelah ruang Dekan. Duduk agak jauh disebelah saya, masih kata dia, Kasubag Kepegawaian dan dihadapan dia juga duduk Susetyo, Dekan, Wadek II dan sekjur, Ikram. Sementara yang diduga memeras dirinya tidak hadir, alias nyumput dimana.

“Dekan memulai dengan pertanyaan, benar akun FB itu milik saudara? Saya tidak mau menjawab pertanyaan jika Sus dan Ikram ada disini, jawab saya. Ruangan agak riuh tapi saya tetap tidak mau menjawab pertanyaan. Akhirnya mereka keluar ruangan beriringan seperti Upin dan Ipin keluar kelas saat diusir cekgu nya,”kata Maruly.

Maruly kembali menuturkan, jika dekan mengulang pertanyaannya lagi dia menjawab benar itu akun milik dirinya. Karena Maruly tidak bisa buat kirim sms gelap atau surat kaleng.

“Rektor tersinggung disebut bandit tua, kenapa saudara menulis itu? Rektor membohongi saya, prilakunya seperti bandit. Dia membela bandit yang memeras saya, sementara bapak tidak ada salah, hanya keliru menempatkan kasih sayang sama bandit. Saya beranjak dari kursi memegang tangan dekan dan menyalimnya, Hampura pak, saya melakukan ini karena bapak abai thd laporan saya. Bapak orang baik tapi dikelilingi bandit maka saya berontak,”ujar Maruly kembali.

“Tentu ada konsekuensi atas sikap saudara, akan diperbaiki? Tidak pak jawab saya. Tetapi jika bapak memecat bandit yang jadi Wadek III itu, jangankan menutup akun FB, minta maaf dikoran hingga jalan merangkak kerumah Bapak aja saya mau. Jika masih kurang dan bapak tidak nyaman dengan saya, silakan buat surat pensiun yang akan saya tandatangani. Tolong dicatat ucapan saya barusan pak budi,”tulis Maruly.

Seketika itu, sambungnya, ruangan hening sejenak. “Saya tidak bisa berhenti pak. Saya melakukan ini untuk menjaga kesehatan. Tolong dimengerti psikologis saya, tiap hari saya bertemu dengan pimpinan yang pernah memeras saya. Makan hati saya pak. Saya gak mau kena asam urat, stroke atau darah tinggi kata saya,”kata Maruly.

Maruly mengatakan atas pengakuannya tersebut, Wadek II berkata, jika hal tersebut sudah masuk piil. Lalu maruly menjawab jika dia tidak tau apa namanya, namun dia mengatakan jika harus teguh memegang prinsip.“Saya gak mau kampus dinodai watak transaksional!,”tegas Maruly dan kembali menjabat tangannya kembali.(Red).

Please follow and like us:
error20
fb-share-icon0
Tweet 20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *