Tertundanya Kebangkitan Kaum Muda-Kado Kecil Hari Pemuda ke 88 Tahun 2016

TANGGAL 28 Oktober 2016 bangsa Indonesia memperingati Hari Pemuda yang ke-88, usia yang cukup tua dan seharusnya telah mampu mematangkan nilai-nilai dari semangat kebangkitan kaum muda untuk melepaskan diri dari belenggu kaum penjajah.

Dalam bahasa sederhana, kebangkitan itu berarti bahwa dulu pernah mengalami masa jaya, kemudian jatuh terpuruk dan kemudian sadar akan keterpurukannya, maka bangkitlah dari keterpurukan. Di masa lalu kita pernah mengalami kejayaan pada jaman kerajaan Madjapahit dan Sriwidjaya.

Bahkan pada jaman Madjapahit telah terikrar penyatuan Nusantara oleh patih Gadjah Mada dengan sumpah Palapanya. Penyatuan Nusantara ini jauh lebih luas dari cakupan organisasi Budi Oetomo yang hanya meliputi pulau Jawa saja.

Sayangnya sejarah bangsa hanya terfokus pada era setelah masuknya Islam ke Indonesia, sementara sejarah sebelumnya dianggap tidak terlalu penting. Jika demikian, kebangkitan ini bangkit dari apa, mengingat pada pemerintahan oleh kerajaan Islam, belum ada penyatuan Nusantara.

Sering muncul pertanyaan yang sulit untuk ditemukan jawabnya, apakah ada perbedaan antara hari ini dengan 88 tahun yg lalu? Bedanya (barangkali), jika dulu bangsa kita di jajah asing, sekarang di jajah oleh bangsa sendiri. Banyak putra-putri dari kaum pribumi yang memiliki reputasi baik namun tidak memiliki tempat di negeri sendiri. Kalau saja Tuhan memperkenankan para tokoh gerakan kaum pribumi untuk hidup kembali, apa kira-kira pendapat mereka tentang Indonesia hari ini, tentang pemimpin-pemimpin negara, dan terpenting tentang semangat nasionalisme generasi muda.

Mengapa nasionalisme? Harus disadari bahwa salah satu kata kunci dari lahirnya Sumpah Pemuda dan gerakan lainnya, karena adanya semangat nasionalisme dan bela negara serta cinta tanah air. Jujur kita akui, sejak memasuki era reformasi semangat nasionalisme hanya dimiliki oleh kaum tua, khususnya kakek nenek moyang kita yang masih tersisa. Sementara pemahaman akan nasionalisme dan bela negara serta cinta tanah air bagi kalangan generasi muda semakin memudar, tidak ada greget untuk bangkit di saat negara dalam kondisi terancam sekalipun.

Saya bukan hendak mencari kambing hitam, namun tidak ada salahnya jika kita menengok pada sistem dunia pendidikan di negeri ini yang memiliki tanggungjawab besar dalam membentuk sosok generai muda yang handal. Belakangan sangat trend dan menjamur sekolah-sekolah bertaraf Internasional, baik negeri maupun swasta.

Semua pihak, baik lembaga pendidikan maupun para orang tua merasa bangga dengan sekolah ini. Bangga karena sekolah tersebut mampu memberikan fasilitas yang jauh lebih baik dan lengkap dibanding sekolah biasa. Tidak pernah terpikir bahwa dalam perjalanannya sedang terjadi pengikisan semangat nasionalisme bagi para siswa terhadap Ibu Pertiwi.

Maka jangan menyesal jika hari ini dan beberapa tahun kedepan generasi muda kita tidak hafal lagi dengan lagu kebangsaan. Juga jangan salahkan apabila mereka tidak peduli apa itu Pancasila dan UUD 1945. Maklum, mereka dalam kesehariannya dituntut untuk lebih banyak belajar bahasa asing dibandingkan bahasa Indonesia. Kalau saya boleh memilih konsep pendidikan antara International School dengan National Plus School, maka saya lebih memilih National Plus School.

Mengapa? Agar para murid tidak lupa ke-Indonesiaan-nya, kemudian lahir nasionalisme luhur dengan ekspresi cinta negara yang tumbuh secara natural atau pun ditumbuhkan melalui proses persamaan nasib ke dalam sanubari warga negara. Rasa itu pun tumbuh mengatasi kepentingan primordial, seperti etnis, ras, atau agama. Sehingga membawa pada anti kolonialisme, penjajahan pihak asing dan sejenisnya. Bangunan bernama nasionalisme dan patriotisme harus ditegakkan kembali, bukan sekadar bicara harapan dan impian. Pendek kata, NKRI menjadi harga mati seperti yang diwariskan kaum pribumi tempo dulu. Jangan sampai sebaliknya, kita justru menjadi tamu di negeri sendiri.

Masa depan dan hari esok selalu ada seperti matahari yang tak pernah lelah terbit di Barat, begitu juga dengan optimisme. Kaum muda harus hadir di depan dan bangkit di tengah hiruk pikuk suhu perpolitikan dan eksistensi tatanan kehidupan yang mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara. Orang muda yang kemudian diharapkan memunculkan pemimpin muda bisa dipahami sebagai semangat, walaupun sebenarnya parameter tentang usia muda pun masih menjadi perdebatan, karena nyatanya banyak pemimpin muda yang tidak tahan uji dan tersandung berbagai kasus pidana. Meski demikian jika melihat fenomena yang ada saat ini, bangsa kita membutuhkan semangat muda dan kepemimpinan baru yang lebih progresif. Semangat muda tentu tidak sama dengan usia muda.

Jika akhir-akhir ini banyak tokoh muda yang tampil di panggung politik dan mencalonkan diri dalam pemilihan kepala daerah, secara psikologis hal tersebut merupakan bentuk sikap apatis akut dari kebanyakan tokoh muda terhadap stagnasi reformasi. Disadari atau tidak, hal ini bisa jadi sebagai bentuk ‘perlawanan’ kaum muda terhadap kaum tua. Namun persoalannya tidak sesederhana yang dibayangkan, bahwa dengan beralihnya kepemimpinan ke tangan kaum muda, secara otomatis akumulasi persoalan akan selesai. Ada modal dasar yang dibutuhkan pemimpin muda yaitu keyakinan dan kemampuan dalam mengendalikan diri. Inilah yang paling sulit dan sering menjadi sandungan bagi kaum muda dalam menjalankan kepemimpinannya.

Keyakinan diri sangat dibutuhkan saat mendesain masa depan, didasari niat tulus yang bermula dari lubuk hati setiap manusia, di mulai dengan keyakinan faktual sebagai alasan mengapa memiliki optimisme untuk menjadi pemimpin. Perlu alasan yang kuat mengapa pantas memiliki keyakinan tentang suatu hal. Batas untuk yakin dan ragu-ragu terkadang lebih sering berupa batas kemampuan untuk mengetahui bagaimana sesuatu terjadi. Para pakar manajemen menyebutnya sebagai kemampuan untuk memahami hasil akhir. Selain keyakinan faktual keyakinan mental juga diperlukan. Hal ini akan menjadi senjata ampuh ketika sedang menghadapi permasalahan.

Setiap orang adalah pemain utama sekaligus penonton. Ketika tidak memiliki keyakinan mental maka sangat bisa dipastikan karakter yang kita presentasikan di atas panggung kehidupan ini sulit menciptakan kepuasan internal dan tidak memiliki daya tarik untuk merebut apresiasi penonton. Keyakinan bahwa di dalam diri memiliki kemampuan meraih sukses melahirkan pribadi yang puas terhadap kehidupan dan oleh karena itu energi yang dimunculkan pun bersifat positif. Kekuatan ini yang kemudian melindungi keyakinan dari ancaman ‘keragu-raguan’, rasa tidak berdaya, pesimisme, rasa khawatir yang berlebihan terhadap takhayul ‘jangan-jangan’ dan pada akhirnya menyebabkan keluar dari garis fokus hidup. Kemampuan mengendalikan diri atau yang lebih dikenal dengan kontrol diri merupakan modal kedua dalam menegakkan bangunan bangsa.

Kemampuan ini erat kaitannya dengan bagaimana seseorang menggunakan pilihan hidup. Disadari atau pun tidak selama hidup selalu disodorkan sejumlah pilihan. Dimana setiap pilihan mengandung konsekunsi dan seluruhnya dirilah yang menentukan. Maka, sebelum kita bermimpi meraih puncak, ada baiknya kita mulai berbuat dengan hal-hal kecil, seperti menjaga Indonesia dengan membuang sampah pada tempatnya. Dirgahayu Pemuda Indonesia, bangkitlah dari tidur panjangmu!!!

Please follow and like us:
error20
fb-share-icon0
Tweet 20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *