Festival Radin Jambat Meriahkan HUT Way Kanan

WAYKANAN (PENA BERLIAN ONLINE) – Festival Radin Djambat ke-13 dalam rangkaian kegiatan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Waykanan ke-19 di Komplek Rusunawa, Kecamatan Blambanganumpu, Jum’at (27/04/2018)

Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Politik dan Pembangunan Pemerintah Daerah Provinsi Lampung, Theresia Sormin mewakili Pjs Gubernur Lampung, Didik Suprayitno saat membuka kegiatan mengatakan momen festival tersebut sangat tepat dan memiliki nilai-nilai stategis untuk meningkatkan silaturahmi dan nilai-nilai bangsa terutama nilai-nilai budaya Lampung yang mendukung sektor pariwisata di Bumi Ruwa Jurai.

“Perlahan tapi pasti berbagai agenda pembangunan di Provinsi Lampung terus mengalami peningkatan khususnya dibidang pariwisata, dari data yang didapat bahwa jumlah wisatawan nusantara yang berkunjung ke Provinsi Lampung melebihi wisatawan nusantara yang berkunjung ke Bali yaitu dengan angka 11 juta wisatawan nusantara sedangkan wisatawan nusantara yang berkunjung ke Bali berjumlah 8,5 juta,” ujar Theresia.

Melihat hal tersebut, lanjut Theresia, Pemerintah Provinsi Lampung melalui Dinas Pekerjaan Umum PUPR terus melakukan berbagai pembangunan ruas jalan menuju destinasi wisata serta menyediakan infrastruktur penerangan melalui program Lampung Terang 2019.

“Sementara, Bupati Waykanan, Raden Adipati Surya mengungkapkan, Festival Radin Djambat merupakan sebagai bentuk rasa syukur atas terbentuknya Kabupaten Waykanan menjadi daerah Otonom sejak tanggal 27 April 1999, berdasarkan Undang-Undang No 12 Tahun 1999 Tanggal 20 April 1999.

“Festival yang telah diselenggarakan setiap tahunnya juga digunakan mengevaluasi dan mengkaji ulang sejauh mana hasil-hasil kerja yang telah dicapai serta mengidentifikasi kendala dan permasalahan yang ada, untuk kemudian berupaya menyelesaikan permasalahan tersebut sehingga kita mampu berbuat dan berkarya secara lebih optimal dalam membangun Kabupaten yang kita cintai ini,” kata Adipati.

Menyadari Kabupaten Waykanan tidak terbentuk begitu saja, lanjut Adipati, melainkan dengan perjuangan, pengorbanan dari semua pihak baik tokoh Adat, masyarakat, pemuka Agama, dan  tokoh-tokoh formal lainnya. Berkaitan dengan hal itu setiap kali memperingati HUT Kabupaten Waykanan, juga selalu mengingat jasa-jasa mereka, dan berdoa semoga Tuhan Yang Maha Esa mencatatnya sebagai amal kebaikan yang tidak putus nilai pahalanya.

“Kita patut mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada para pendahulu kita yang berjasa dalam membangun Kabupaten Waykanan yang kita cintai ini, dan juga semua masyarakat yang dengan tulus ikhlas telah memberi sumbangsih dalam membesarkan dan mengisi pembangunan selama 19 tahun ini,” ujar Adipati.

 Diketahui, bahwa moment Festival Radin Jambat adalah sebagai upaya pelestarian dan pengembangan kebudayaan daerah sebagai salah satu khasanah kebudayaan nasional, dan  untuk mengenalkan keberagaman di  Kabupaten Waykanan, baik potensi budaya, potensi wisata dan sebaginya, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memberikan pendapatan bagi Pemerintah Daerah. Dengan rangkaian kegiatan atraksi budaya, diharapkan dapat meningkatkan persatuan dan kebersamaan di antara warga masyarakat, meskipun berasal dari suku dan daerah berbeda tetapi dengan semangat Ramik Ragom, maka kita pasti mampu membawa Kabupaten Waykanan menjadi lebih maju lagi.

Pembentukan Kabupaten Waykanan melalui perjuangan yang sangat panjang dimulai tahun 1957 hingga tahun 1999 yang juga tidak terlepas dari  perjuangan bersama semua pihak baik DPR RI, Pemprov Lampung, Pemkab Lampung Utara, Universitas Lampung, tokoh adat, tokoh masyarakat, pemuka agama, dan  Tokoh-Tokoh formal lainnya, baik yang ada di dalam atau di luar Kabupaten Waykanan.

Pada kesempatan tersebut, Adipati juga mengajak masyarakat untuk mengenang jasa-jasa para perintis berdirinya Kabupaten Waykanan pada tahun 1957 diantaranya yaitu Hi. Pangeran Bazar, Hi. Pangeran Malik, Hi. Sutan Gatot Nawawi, Ratu Majapahit, Sutan Raja Alam, Sutan Sogoran Tuha, Jalaludin Gelar Sutan Alamsyah, Aliudin gelar Pesirah Migo, Pangeran Putting Marga, Nursiwan, Minak Sumbahan, Sutan Sunan, dan  Hi. Abdul Roni.

“Selanjutnya para tokoh yang hadir dalam pertemuan di Tanjung Agung, tepatnya pada tahun 1971, mereka adalah Subki E. Harun, Hi. Ridwan Basyah, Ibu Suud, Barusman, Raden Intan, Johan Efendi,  Ajmain Mas Efendi, Mayor A. Latif, dan Syamsudin, TA,” lanjut Adipati.

Para Punyimbang adat yang menghadiri Bugawi Adat Nasrunsyah Gelar Sutan Mangku Bumi pada tahun 1975, yaitu Hi. Ridwan Basyah, Idham Bazar, Pangeran Puting Marga, Minak Sumbahan, Sutan Mangku Bumi, Ratu Bagus, Nasrunsyah Gelar Sutan Mangku Bumi, Hop Marga, Sutan Sunan – Pakuan Ratu, Hi. Ibrahim, dan Pangeran Mas Muhammad,

“Serta tak ketinggalan juga jasa para Pembantu Bupati Lampung Utara Wilayah Blambanganumpu, yaitu Hi. Mochtar Lutfi, Hi. Ridwan Basyah, Hi. Mansyur Nur, Hi. Hanibal Salim, Tamanuri, dan terakhir Rifdi Arief,” sambung Adipati.

Ketua Pelaksana, Kussarwono, melaporkan bahwa sebagai rangkaian dari peringatan HUT Kabupaten Waykanan ke-19 Tahun 2018 yang dirangkai dengan Festival Radin Djambat yaitu sebagai upaya mengingatkan kembali kepada masyarakat Waykanan tentang sejarah berdirinya Kabupaten Waykanan, sebagai motivasi dan mendorong keterlibatan masyarakat untuk meningkatkan budaya dan pariwisata yang ada di masyarakat.

“Dengan rangkaian kegiatan sunatan massal, operasi katarak, IVA Test, operasi bibir sumbing, Istighotsah dan tausiah bersama Ustad Abdul Somad,L.C.,M.A, berbagai pertandingan dan perlombaan, acara kesenian dari PNPB Bandung, Wayangan, Tabur Bunga dan Pemberian Tali asih kepada veteran dan janda veteran, upacara peringatan HUT Kabupaten Waykanan, sidang paripurna istimewa, pembukaan Festival Radin Djambat ke-13, hiburan rakyat, dan trail adventure dengan waktu mulai 2 april sampai dengan 30 April 2018 dibeberapa tempat di Kabupaten Waykanan,” ujar Kussarwono.

“Masyarakat Way Kanan yang menonton festival tersebut dibuat terpukau oleh tarian kolosal Tuah Pusaka Radin Djambat yang mengambarkan Radin Djambat melawan kejahatan dengan kesaktiannya akhirnya pengaruh buruk ini dapat dikalahkan.

Tak hanya itu saja, peserta pawai budaya dari Kecamatan Blambanganumpu, Pakuanratu dan Negeribesar menampilkan tari kreasi Sebambangan, yang menceritakan bagaimana sepasang muda mudi yang melakukan pendekatan sampai juga dibawa dengan dilarikan oleh pihak laki-laki dan bagaimana masyrakat yang ada melihat pengantin dengan cara menyubuk melihat dari sarung.

Tarian ini ingin menggambarkan kehidupan masyarakat di Way Kanan yang masih tetap melestarikan adat dan budaya sesuai kehidupan masyarakat Lampung.

Diketahui dalam Festival Radin Djambat tersebut juga menampilkan pawai budaya suku Lampung, Sunda, Padang, Bali,  Jawa dari seluruh Kecamatan se-Kabupaten Waykanan.

Ribuan masyarakat yang menyaksikan Festival Radin Djambat merasa senang dan puas atas suguhan yang ditampilkan di festival tersebut. (Alex)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *