Bandar Lampung – Bank Indonesia melalui Kepala Perwakilan Wilayah Provinsi Lampung, Bimo Epyanto, menyatakan sikap optimis terhadap pertumbuhan ekonomi Lampung pada 2026 – 2027 tetap berada di atas 5 persen.
Namun, capaian tersebut dinilai membutuhkan upaya ekstra di tengah berbagai risiko yang terjadi belakangan ini, terutama faktor cuaca yang memengaruhi sektor pertanian.
“Secara umum kami masih optimis ekonomi Lampung bisa tumbuh di atas 5 persen pada 2026 dan 2027. Tapi tentu perlu kerja keras, apalagi ada risiko cuaca yang dapat berdampak signifikan pada sektor pertanian yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi daerah,” ujar Bimo dalam paparannya pada RKPD lalu.
Sementara itu, untuk menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan, inklusif, dan berkualitas, termasuk menekan pengangguran dan kemiskinan, Bank Indonesia Provinsi Lampung secara khusus menyiapkan tiga pilar strategi utama untuk mendukung pertumbuhan ekonomi tersebut.
Pertama, peningkatan produktivitas pada sektor pertanian sebagai lapangan usaha utama di Lampung.
Upaya ini mencakup penguatan produksi dan ketahanan pangan di sektor pertanian agar tetap stabil di tengah ketidakpastian iklim.
Kedua, penguatan sektor non pertanian melalui investasi swasta, terutama pada industri manufaktur berbasis hilirisasi komoditas unggulan Lampung.
Selain itu, sektor pariwisata juga perlu menjadi atensi khusus karena dinilai memiliki potensi besar yang akan melibatkan banyak lapangan usaha.
“Pariwisata perlu difokuskan dengan ciri khas Lampung yang tak dijumpai daerah lain, sehingga menarik wisatawan. Targetnya meningkatkan jumlah kunjungan, serta lama tinggal wisatawan, dan mendorong konsumsi wisatawan di Lampung,” jelasnya.
Ketiga, percepatan dan perluasan digitalisasi ekonomi dan keuangan daerah, khususnya elektronifikasi transaksi pemerintah daerah.
Menurutnya, digitalisasi terbukti mampu meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) serta membuat ekonomi daerah lebih tahan terhadap gejolak.
“Data menunjukkan daerah dengan tingkat digitalisasi tinggi, terutama elektronifikasi transaksi pemerintah daerah, memiliki PAD lebih besar dan lebih resilien terhadap tekanan ekonomi,” tambah Bimo.
Dengan mengusahakan tiga pilar tersebut dapat dimaksimalkan, Lampung memiliki peluang untuk menjaga momentum pertumbuhan sekaligus meningkatkan kualitas ekonomi daerah hingga tahun 2027 mendatang. (Sumber Berita Radar Lampung)

