Minim Kontrol Akses Gadget, Bocah 10 Tahun di Bandar Lampung Alami Adiksi Roblox hingga Gangguan Mental

Bandar Lampung – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandar Lampung melalui Dinas PPPA mengimbau seluruh orang tua untuk memperketat pengawasan penggunaan gadget dan memastikan kehadiran emosional anak di rumah.

Dari data Dinas PPPA Bandar Lampung melalui UPT PPA Bandar Lampung, ditemukan satu kasus kecanduan Roblox pada anak di bawah umur pada awal 2026.

Seorang anak laki-laki berusia sekitar 9–10 tahun di Bandar Lampung dilaporkan mengalami adiksi parah terhadap permainan Roblox hingga menunjukkan gejala gangguan mental dan perilaku mengkhawatirkan.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Bandar Lampung Maryamah mengungkapkan, kasus ini menjadi alarm keras bagi para orang tua.

Menurutnya, akar masalah dari penyimpangan perilaku anak sering kali bermula dari kondisi rumah tangga.

“Kuncinya adalah kerukunan dalam rumah tangga. Anak-anak butuh dilindungi dan disayang, Pelarian anak ke gadget salah satunya karena jauh dari kasih sayang dan kenyamanan di rumah, sehingga mereka mencari kebahagiaan di luar dunia maya,” ujar Maryamah.

Ia menekankan pentingnya mendidik anak agar bijak menggunakan teknologi di era digital.

“Kita tidak bisa menghilangkan gadget karena ini zamannya, tetapi penggunaan harus bijak dan anak harus dibuat mandiri,” imbuhnya.

Kepala UPT PPA Bandar Lampung Prisnal lantas membeberkan fakta pilu di balik keseharian anak tersebut.

Berdasarkan penelusuran, anak ini lahir dari orang tua yang menikah di usia dini saat SMA dan tanpa restu keluarga.

“Ayahnya menghilang sejak anak ini bayi setelah diusir oleh kakeknya. Sementara ibunya harus bekerja di luar kota demi tuntutan ekonomi, Jadi, anak ini masuk kategori broken dan diasuh oleh kakek serta neneknya,” terang Prisnal.

Kurangnya kontrol dari kakek-nenek yang cenderung membebaskan cucunya bermain gadget agar “senang” dan tidak rewel justru berujung petaka.

Kini, anak tersebut sudah pada tahap tidak bisa mengontrol emosi. Kondisi fisik dan psikologis anak tersebut saat ini sangat memprihatinkan.

Prisnal menyebut sang anak tampak kehilangan kemampuan berinteraksi sosial secara normal.

“Dikasih hal lucu tidak tertawa, ditakut-takuti juga tidak respons. Benar-benar dingin, kayak robot,” ungkapnya.

“Kalau ditanya matanya kosong dan lebih suka menunduk. Dia lebih nyaman berinteraksi dengan layar daripada bertatap muka,” sambungnya.

Beberapa gejala kecanduan yang dialami anak tersebut antara lain gangguan emosi berupa mengamuk dan tantrum hebat jika gadget diambil.

Lalu, gangguan tidur sering begadang hingga di atas jam 23.00 dan tidak pernah tidur siang.

Terjadi juga masalah akademik seperti tugas sekolah tidak pernah tuntas dengan alasan ‘lelah’ dan sering tidur di kelas hingga pola makan buruk.

“Hanya mau makan ayam geprek dan sangat kurang mengonsumsi sayuran,” kata Prisnal.

Saat ini, pihak UPT PPA telah menyerahkan kasus ini kepada psikolog untuk menjalani terapi intensif.

Menariknya, saat diajak ke pantai, anak tersebut menunjukkan ketertarikan pada aktivitas fisik seperti membangun istana pasir.

Namun, keterikatannya pada ponsel masih sangat kuat. “Begitu saya coba pinjam HP-nya, langsung dia sambar dan setel lagi,” ungkapnya.

“Ini yang sedang kita upayakan melalui terapi psikologi agar pelan-pelan bisa terkikis,” pungkas Prisnal.

Untuk itu, Pemkot Bandar Lampung melalui Dinas PPPA mengimbau seluruh orang tua untuk memperketat pengawasan penggunaan gadget dan memastikan kehadiran emosional anak di rumah. (Sumber Berita Radar Lampung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *