Lampung, (Pena Berlian Online) – Abok selaku kakak kandung dari Rukmawati (49) Penderita Gangguan Jiwa mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Pekon Banjarsari, Kecamatan Talangpadang serta Dinsos Tanggamus dan Kemensos RI yang sudah membantu adek kandungnya sampai dirawat dirumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Lampung, Sabtu (23/07/22).
Abok bingung dan keluhkan aturan dari rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Lampung dan mengatakan, “Saya kebingungan, adek saya Rukmawati ini benar sudah dibantu dari Pemerintah Pekon dan Pemerintah Daerah serta Pemerintah Pusat, yang ahirnya bisa dirawat dirumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Lampung. Akan tetapi, saya keluhkan pelayanan pengurus Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Lampung ini yang mengharuskan pihak keluarga harus ada yang menunggu pasien selama setengah bulan untuk tahapan pertama ini. Karna untuk langkah pertama 14 hari atau setengah bulan ini harus ada yang menunggu kata pihak rumah sakit Jiwa Daerah Provinsi Lampung. Perawat-perawatnya yang ngomong, saya bingung kalau mau setengah bulan dirumah sakit jiwa ini saya berat karna saya tidak mempunyai uang baru semalam saja saya sudah tidak kuat dan ahirnya saya pulang kerumah untuk mencari utangan uang karena untuk biaya selama setengah bulan nunggu dirumah sakit Jiwa Daerah Provinsi Lampung, karna kalau mau setengah bulan dirumah sakit ini saya tidak ada biaya,” ucapnya
Lanjut abok mengatakan, “Untuk saya menunggu dirumah sakit jiwa ini disiapkan kamar kosong dan ada kamar mandi selebihnya saya meyiapkan sendiri baik selimut, kasur, bantal dan makan minum saya sendiri, nah untuk selimut bantal ok saya bisa saja bawa dirumah untuk menunggu disini selama setengah bulan lamanya akan tetapi saya berat untuk biaya makan dan minumnya,” imbuhnya.
“Saya berharap dan sangat mengharapkan lagi dibantu dengan pemerintah daerah atau pusat agar pemerintah ini dapat membantu sampai tuntas kalau memang harus saya harus ikut tidur disana juga ya tolonglah dikasih makan dan minum selama saya menunggu dirumah sakit jiwa ini, karna kalau saya harus beli sendiri dengan tidak bekerja harus mengeluarkan biaya selama setengah bulan lamanya saya tidak sanggup karna saya hanya buruh tani,” tutup Abok. (Romli)

