Bandarlampung ( Pena Berlian Online)- Salah satu mantan pengawas PT. Radja Mandala Group, Bowo, yang mengaku telah di pecat oleh PT. Radja Mandala Group, bongkar ‘Borok’ dugaan korupsi proyek pembangunan jembatan milik Dinas Pekerjaan Umum (PU), Penataan Ruang Provinsi Lampung.

Dalam pengakuannya, Bowo mengatakan jika pengerjaan proyek jembatan milik Dinas Pekerjaan Umum (PU), Penataan Ruang Provinsi Lampung, yang ada di wilayah Kabupaten Tulang Bawang, diduga kuat tidak sesuai dengan Petunjuk Pelaksanaan ( Juplak) dan Petunjuk Teknis (Juklak Juknis). Pasalnya pihak rekanan pemborong yaitu PT. Radja Mandala Group diduga kuat telah mengurangi volume bangunan tersebut.
Masih kata Bowo, pekerjaan rigit beton untuk peningkatan jalan kualitas daya dukung jalan jembatan dikerjakan tidak sesuai dengan RAB. Pasalnya berdasarkan RAB pekerjaan tersebut dikerjakan dua lapis, namun oleh pihak pemborong hannya satu lapis. 
“Memang seharusnya di rigit beton itu dikerjakan dua lapis, tapi nyata dipasang hanya satu lapis. Kubikasi jembatan itu kurang ketebalannya karena hannya dibuat tidak sampai 30cm. Padahal untuk biaya pembangunan jembatan tersebut besar,”ungkap Bowo.
Ditempat yang sama, Yono selaku kepala tukang mengatakan hal yang sama jika pengerjaan tersebut dikerjakan tidak sesuai dengan aturan.
“Saya hanya mengerjakan atas perintah dan permintaan bang Ucok selaku kontaktor yang bekerjasama dengan PT. Radja Mandala Group,”ujarnya singkat.
Berita Edisi Sebelumnya :
Dugaan korupsi proyek pembangunan jembatan Dinas Pekerjaan Umum (PU), Penataan Ruang Provinsi Lampung, bersumber dana APBD Tahun 2017, semakin kuat. pasalnya baru sekitar enam bulan besi cor proyek tersebut, sudah berantakan alias muncul kepermukaan. Kuat dugaan proyek jembatan dikerjakan tidak sesuai dengan aturan alias asal-asalan.
Berdasarkan hasil pantauan kru media Pena Berlian Online, pekerjaan yang dilakukan oleh rekanan pemborong milik Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang Provinsi Lampung, yang ada di Way Basoh, Way Suhaji dan Way kecubung II Kabupaten Tulang bawang, yang telah diresmikan pada bulan Desember 2017 lalu, besi coran sudah amburadul alias berantakan.
Bahkan sebagian cor Rigit beton yang ada pengerjaan peningkatan jalan kualitas daya dukung jalan pada kanan kiri jembatan sudah mulai ambles.
Haltersebut, sudah dipridiksi tidak bakal bertahan lama oleh sejumlah kalangan, mengingat pada saat pengerjaan proyek jembatan yang ada dikabupaten Tulang Bawang, jika dilihat dari pekerjaan awal hingga ahir, pembangunan jembatan yang ada disejumlah kecamatan kabupaten setempat jika dilihat secara fisual oleh mata terlihat pengerjaan peningkatan jalan kualitas daya dukung jalan pada kanan kiri sebelum jembatan dengan sistem menggunakan cor beton rigid menggunakan pembesian full pada muka badan jalan fungsional dengan besi polos diametet 12 mm.
Sebab masih kata sejumlah narasumber yang ada dilokasi setempat mengatakan, saat proses pengerjaan pihak rekanan pemborong terlihat jelas kalau sistem pembesiannya cara pengikatan tulangan pokoknya tidak sistem silang X ketulangan bagi dan pembagian jarak penulangan terlihat asal-asalan, serta anyaman besinyapun tidak di taruh di atas lantai kerja sesuai ilmu konstruksi pekerjaan beton.
“Pemadatan proyek pengerjaan peningkatan jalan kualitas daya dukung jalan jembatan tersebut kurang maksimal, dikhawatirkan dalam waktu tidak lama akan ada pergerakan pada muka jalan amblas pada bahu jalan dan bawah rigid beton disaaat musim penghujan dan disaat menerima beban bergerak seperti truk bermuatan diatas 10 tonase. Kehawatiran tersebut betul-betul terjadi, saat ini bisa kalian lihat cor rigit beton sudah ambles, besi cornyapun saat ini sudah pada berantakan,”ungkap salah satu warga jalan Lintas Rawapitu Kampung Paduan Rajawali Meraksa Aji, yang minta tidak ditulis namanya pada Kamis (2/8/2018).
Selain itu juga, Kata narasumber saat mengerjakan peningkatan jalan kualitas daya dukung jalan jembatan tidak menggunakan plastic sheet atau lantai kerja, sehingga saat pengecoran jalan sudah bias dipastikan air semen akan langsung terserap tanah.
“Saat pengecoran peningkatan jalan kualitas daya dukung jalan jembatan tidak menggunakan plastic sheet atau lantai kerja, sehingga saat pengecoran jalan sudah bisa dipastikan air semen akan langsung terserap tanah. Sehingga bisa anda lihat kehawatiran itu terjadi. Cor beton sekarang sudah mulai ambles,”imbuh narasumber.
Terpisah, seperti kita ketahui pada beberapa waktu lalu, dalam meningkatkan konektivitas pembangunan jembatan Gubenur Lampung, Ridho Ficardho menargetkan kualitas bangunan jembatan harus dikerjakan dengan kulitas maksimal 14 ton dengan usia mencapai 25 tahun.
Pihak Pemprov Lampung juga telah menganggarkan untuk pembangunan jembatan yang ada di kabupaten setempat, senilai, Rp1,3 muliar melalui dana APBD dan Rp2,8 miliar pada APBD Perubahan, sehingga totalnya Rp4,1 miliar. Kesembilan jembatan tersebut berkekuatan maksimal 14 ton dengan usia mencapai 25 tahun.
“Boro-boro 25 tahun, baru berjalan enam bulan saja pembangunan jembatan tersebut sudah pada ambles dan besi cor sudah berantakan dan timbul kepermukaan. Bahkan sebagian pondasi jembatan sudah mulai retak,”ujar sumber lain warga setempat.
Narasumber juga menceritakan, pembangunan jembatan milik Dinas PU Provinsi Lampung, berdasarkan informasi yang diperolehnya dikerjakan oleh, CV.Radja Mandala Group dari Bandarlampung.
“Sejumlah proyek pembangunan jalan tersebut dikerjakan oleh PT.Radja Mandala Group dari Bandarlampung. Informasi yang kami peroleh menelan anggaran sekitar Rp4 miliar lebih,”pungkasnya. (Tim).
(Tim).

