PRINGSEWU (PBO) – Secara kasat mata dilokasi hasil pembangunan drainase yang direalisasikan dari Dana Desa (DD) Tahun 2020 di dusun 01 Rt.0, pekon Giri Tunggal, Kecamatan Pagelaran Utara, Kabupaten Pringsewu diduga kurangnya pengawasan dari instansi terkait (pendamping desa, kasi PMD kecamatan), Kamis (4/2/2021).
Ironisnya, hasil investigasi hasil kegiatan pembangunan drainase direalisasikan DD tahun 2020 yang telah selesai dilaksanakan terlihat pada lantai drainase tersebut tidak dipasang lantai (fiktip) yang mana, bila melihat dana anggarannya cukup besar DD untuk pembangunan drainase tersebut.
Sebelumnya, Sekretaris Pekon setempat, Dirun (60) sebagaimana disinggung dari hasil pembangunan rehabilitasi peningkatan sistem pembuangan air limbah) sebesar Rp 379,020,000, tahun 2020 tahap satu itu diraelisasikan ke pembangunan drainase sepanjang 400 meter dengan tipe 60 (tinggi 60 cm x Lebar Lantai 30 x Lebar Permukaan 50 cm), waktu itu dia (Dirun-red) hanya mengawasi saja.
“Itu telah direalisasikan ke pembangunan drainase terletak di Rt.01, dusun 01 dengan panjang global 400 meter dengan tive 60 (tinggi 60 cm x Lebar Lantai 30 x Lebar Permukaan 50 cm), kebetulan waktu itu saya juga ikut mengawasinya, walau hanya sepintas,” kata Sekretaris Pekon tersebut.
Dirun, waktu itu singgung soal hasil pembangunan rabat beton di dusun 03, Rt.07, didepan rumahnya kurang bagus sudah berlobang dan keropos, kurang lebih panjang 400 meter yang direalisasikan dari DD tahap ke dua di tahun 2019 lalu bekisar Rp 592,335,000 itu penyebab awalnya pada pengecoran rabat beton mungkin kurang siram dan mungkin pelaksanaannya kurang maksimal.
“Jalan rabat beton yang dibagun dari DD 2019 yang ada didepan rumah saya sudah lama berlobang-lobang dan kropos, kami ini, untuk dalam pengelolaan DD itu kurang paham. yang jelas hasil pembangunan rabat beton saya anggap kurang bagus. Untuk pembelanjaan semuanya itu adalah pak lurah. Seprti pembelanjaan matrial pasir, batu sprit, besi, semen dan semua matrial itu pak lurah, saya selaku sekdes hanya verifikasi data, sebenarnya kami mengeluh adanya pak lurah tidak transparan dalam pengelolaan DD,” kata dia.
Masih dikatakan Dirun, mengenai Untuk lebih jelas mengenai pengelolaan DD dipekon ini dari awal DD ada, saya tidak tau. hanya menerima kwitansi-kwitansi.
“Saya hanya menerima kwitansi-kwitansi pembelanjaan semen, batu, pasir, besi, makan minum itu yang diberikan pak lurah itu saja, disetiap tahunnya begitu, dan membuat pelaporan-pelaporan pembuatan LPJ itupun saya bareng-bareng dengan kaur perencanaan dan bendahara pekon. lurah tidak ada keterbukaan kepada kami aparatur pekon dalam pengelolaan DD,” imbuhnya.
Warga setempat yang tidak disebutkan namanya, mengatakan untuk lantai drainase ini semua ini yang bagin sini tidak dilantai, tapi kalau dibagin sana itu sudah. Memang dari dulu belum dilantai.
“Memang dari dulu tidak dilantai, kalau bagian sini tidak sama sekali dilantai, tapi kalau dibagin sana dilantai, gak tau kenapa,” kata warga setempat saat dikonfirmasi mengenai hasil pembangunan drainase DD tahun 2020 yang tidak dilantai.
Kuat yang dikatakan bendahara pekon, Novianti (27) yang disinggung soal realisasi dana anggaran untuk kegiatan penanggulanan bencana (Penanganan Covid-19) sekitar Rp 93,695,000, ia mengatakan pada waktu itu kalau tidak salah itu direalisasikan untuk belanja paket sembako yang diberikan ke masyarakat terkena dampak.
“Belanja Mi, sayuran, beras yang diberikan ke 54 warga masyarakat yang terdampak covid, kalau tidak salah sebanyak 54 KK, dan juga untuk belanja sarung tangan, penyemprotan,” katanya.
Dijelaskan Novi, realisasi Penyelenggaraan Pos Pelayanan Teknologi Pekon (Posyantek Pekon) (Bantuan Insentif dan Operasional tahun 2020 dan Penyediaan Operasional Pemerintah Desa (ATK, Honorarium PKPKD dan PPKD, perlengkapan perkantoran, pakaian dinas/atribut, listrik/telpon) saya katakan itu benar-benar tidak tau, semua pak lurah.
“Soal realisasi dana anggaran itu semuanya tidak tau, semuanya pak lurah, ingat saya hanya tahun ini saya hanya dititipkan uang untuk membayar koran, itupun. Kalau yang lain-lainnya saya tidak tau, karena pak luralah sebagai penguna anggaran, mungkin sampean sudah taulah dari dulu, intinya penjelasan dari saya sama dengan apa yang dikatakan pak carik dengan sampean,” tutup Novi.
Terpisah warga setempat yang namanya tidak mau ditulis sedikit heran, jalan rabat beton gak sering dilewati mobil, tapi rusak seperti setiap hari dilalui mobil.
Amat disayangkan sudah beberapa kali berita ini diterbitkan, namun kepala pekon Giri Tunggal tidak pernah dapat ditemui untuk konfirmasi, walaupun sebelumnya sudah dikonfirmasi melalu WhatShaap miliknya yang dalam keadaan aktif tidak juga ada balasan. Dan hari ini disambangi ke kantor pekonnya tidak juga ada masuk kantor. (Bam)

