LAMPUNGSETAN (PENA BERLIAN ONLINE)- Sejumlah pengendara bermotor mengeluhkan maraknya dugaan pungutan liar ( Pungli) di pelabuhan Bakau Huni-Merak yang dilakukan oleh sejumah calok yang disinyalir bekerjasama dengan pegawai PT Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP) saat malam hari.
Seperti kita ketahui, pihak PT Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP) sudah menerapkan cara beli tiket kapal pakai e-money atau secara nontunai di Pelabuhan Merak dan Pelabuhan Bakauheni. Cara beli tiket kapal secara nontunai di Pelabuhan Merak dan Pelabuhan Bakauheni serta daftar harga tiket kapal reguler maupun kapal cepat.
Adapun, cara beli tiket kapal pakai e-money di Pelabuhan Merak dan Pelabuhan Bakauheni, cukup dilakukan dengan mendatangi loket penjualan tiket. PT ASDP telah bekerja sama dengan sejumlah bank guna melayani pembelian tiket kapal secara nontunai.
Sedangkan daftar bank dan kartu e-money yang telah bekerja sama dengan PT ASDP dalam melayani pembelian tiket kapal secara nontunai antara lain yakni, BRI (Brizzi), BNI (Tap Cash), Bank Mandiri (Mandiri e-Money) dan BTN (Blink).
Namun sayangnya, pelayanan tersebut dikeluhkan oleh ratusan pengedara mobil pribadi dan barang beserta motor. Dengan alasan kehabisan saldo e-money para sopir terpaksa tidak bisa mennyebrang jika tidak menggunakan jasa para calok yang menawarkan secara tunai dengan meminjami kartu dari para calok dan penunggu loket.
Terpisah, beberapa waktu lalu kru kantor berita Media Pena Berlian Online, mennyamar menjadi penumpang kapal di pelabuhan bakau huni. Benar saja saat mennyodorkan kartu e-money pihak penjaga loket mengatakan sudah habis. Lalu pihak penjaga loket pelabuhan menawarkan kartu miliknya dengan membayar tunai.
Dikesempatan yang sama, salah satu sopir truk barang yang minta namanya tidak ditulis mengaku mengalami halserupa. Kartu e-money miliknya tidak bisa dipergunakan dengan alasan Saldo habis dan terpaksa harus ngerogoh kocek uang tunai untuk menerima tawaran calok pelabuhan jika ingin mennyebrang cepat.
“Ini sangat merugikan kami pak seharusnya kami bayar mobil pribadi jika mengunakan e-money sejumlah Rp3070.000, terpaksa harus membayar jaya tersebut sampai Rp500.000 setiap mobil kepada jasa calok,”keluh narasumber.
Menurut narasumber haltersebut sudah terjadi sebulan yang lalu dan parahnya akibat kejadian tersebut sangat mengganggu sekali karena mengakibatkan kemacetan sepanjang truk seanjang 3 kilometer dan mobil pribadi mencapai 2 km.
“Sepertinya sudah ada permainan oleh para oknum untuk mengeruk keuntungan,”tegas narasumber.
Sumber lain juga mengaku akibat kejadian tersebut telah dirugikan mencapai Rp100-200 ribu/mobil anggkutan.
“Kami sangat dirugikan, akibat kejadian tersebut rata-rata kami harus mengeluarkan tambahan trampotasi untuk pennyebrangan mencapai Rp100-200 ribu per angkutan. Tolong diliput dan dimuat dimedia pak,”tegas salah satu sopir yang tidak mau mennyebutkan namanya.
Ditempat yang sama, salah satu pegawai ASDP pelabuhan Bakau Huni saat dimintai keterangan enggan meberikan tanggapan. Pihak petugas bergegas meninggalkan kru media ini diduga untuk menghindar. (Red).
