Antara Musiyem, Tiwul dan Gaplek

KEDIRI, (PENA BERLIAN ONLINE) Rumahnya tidak mewah, bahkan relatif sangat sederhana dan jauh dari kesan rumah idaman. Tetapi, sosok Mbah Musiyem, warga RT 05 RW 03 Desa Blimbing, Kecamatan Mojo, selama hidupnya tak pernah bersentuhan korupsi, politik saling menjatuhkan atau menebar hoax secara masif. Inilah kelebihan Musiyem dari segala kekurangan yang dimilikinya. kamis (18/10/2018)

Hampir sepekan yang lalu, rumahnya telah berganti wajah, dari gedek dan kayu yang rapuh, hingga genteng retak atau pecah. Tidak ada ekspresi keserakahan dalam diri sosok yang tidak dapat dipastikan penanggalan kelahirannya ini, yang ada hanya rasa syukur, karena rumahnya sudah direnovasi tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun. Tak pernah mengeluh dan selalu mensyukuri adalah kehidupan sehari-harinya.

Didepan rumahnya, sangat akrab akan dua makanan favorit tempo dulu yang sampai detik ini masih eksis di Desa Blimbing, tetapi bukan karena faktor ekonomi, tetapi lebih sekedar kebiasaan yang sulit dihilangkan, meski jaman telah berubah.Tiwul dan gaplek, mungkin terasa asing, tetapi kedua makanan ini tidak lepas dari sejarah, dari era kolonial hingga masa perebutan kemerdekaan. Tiwul dan gaplek berbahan dasar yang sama, hanya saja pengolahan yang berbeda dan rasapun juga beda. Yang paling mencolok dari keduanya adalah makanan sampingannya, kalau tiwul biasa berdampingan dengan sayuran, lain halnya gaplek yang lebih cenderung sebagai makanan camilan.

Di Desa Blimbing, pemandangan tiwul dan gaplek sudah bukan lagi barang langka, bahkan cukup dengan melewati desa ini secara sepintas, kita sudah mendapati kedua makanan itu dibeber didepan rumah-rumah warga. Tapi, ini bukan karena kondisi ekonomi desa ini berstatus desa miskin, tetapi karena memang sudah menjadi budaya turun temurun yang tidak tertulis atau harus dipatuhi.

Kembali lagi pada Mbah Musiyem, janda yang satu ini memang punya anak, tetapi kedua anaknya saat ini tidak lagi tinggal bersamanya, yang satu tinggal di Lampung, dan satunya lagi tinggal di Kutai. Kedua anaknyapun bukanlah pengusaha, tetapi hanya karyawan biasa yang tak mampu berbuat banyak untuk orang tua satu-satunya yang masih hidup.

8 tahun lalu, adalah ingatan Mbah Musiyem sebagai ibu dari anak-anaknya yang merantau diluar pulau Jawa,  dan bersama-sama satu atap selama lebih dari sepekan. Minimnya ekonomi anak-anaknya disadari Mbah Musiyem untuk tidak menuntut ini itu.Keberadaan TMMD didesanya sudah cukup membuat dirinya tersenyum lebar dan kebahagiaan atas renovasi rumah yang didapatnya, pasca sebulan yang lalu, nama dan alamat tempat tinggalnya tercatat didepan balai Desa Blimbing.

Genteng yang rusak telah diganti, tembok berbahan dasar kayu dan gedek, berubah wujud menjadi bata merah bercampur semen dan pasir. Bahkan, yang tadinya hanya berupa jendela  berbahan triplek, kini berubah wujud menjadi kaca dengan pengapit dari kayu.Musiyem tetaplah Musiyem, bukan siapa-siapa, ucapan syukur berulangkali terdengar dan ia tetap tanpa suara keluhan. Dapur wanita usia lanjut ini tetap seperti biasa dan diam adalah sosok dirinya, karena ia menyadari akan kenikmatan kehidupan yang dijalaninya, tanpa ada nafsu ketidakpuasan. Walau sosoknya bukan berpendidikan maha tinggi dan tidak ada titel yang disandangnya, ada contoh kehidupan yang patut ditiru darinya. (dodik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *