Menggali Puisi Khas Pemalang oleh Komite Sastra DKD Pemalang

Pemalang, (Pena Berlian Online), 17-6-2023. Bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemalang, dalam kegiatan Arisan Sastra ke-11 oleh Komite Sastra Dewan Kesenian Daerah Pemalang, menggali puisi khas Pemalang.

Digelar di Locomotif Caffe, Jalan Sulawesi Desa Bojongbata Kabupaten Pemalang Jawa Tengah mulai pukul 14.00 Wib pada Hari Sabtu, 17-6-2023.

Menurut Sokhaeri selaku Ketua Dewan Kesenian Daerah Pemalang, menjelaskan bahwa Arisan Sastra oleh Komite Sastra, merupakan bagian dari Dewan Kesenian Daerah Pemalang, memang rutin menggelar Arisan Sastra bahkan sudah yang ke sebelas. Selain itu, sudah terbit buku kumpulan puisi secara bersama atau kumpulan puisi perorangan, selain beberapa novel.

Disampaikan H. Aji Suwarso selaku Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pemalang, bahwa guru di Pemalang, sebagian tidak menguasai Bahasa Jawa Kromo (halus).

“Pada waktu saya menanyakan, bahasa kromo dari kalimat, bapak turu aku adus. Para guru dengan percaya diri menjawab, Bapak sare kula siram. (Red: ayah tidur aku siram dengan air),” ujarnya.

“Bagaimana dengan murid-muridnya, lanjut Suwarso, menggali puisi khas Pemalang sangat erat hubungan dengan bahasa khas Pemalang,” papar Kabid Seni Budaya mengakhiri sambutanya.

Dalam kesempatan yang sama, Rustono yang lebih dikenal dengan panggilan Rust Gaok, selaku Penasehat Dewan Kesenian Daerah Pemalang menegaskan.

“Bahwa ciri khas puisi Pemalang, susunanya terdiri dari dua baris, empat baris dan satu baris. Seperti yang sudah disepakati pada Arisan Sastra yang ke sepuluh. Jika idenya belum tuntas maka tulisan selanjutnya tetap dua, empat, satu. Dua puluh empat menandakan tanggal dan satu, menunjukan bulan atau lahirnya Kabupaten Pemalang pada tanggal 24 Januari,” ungkapnya dengan serius selaku pimpinan diskusi.

“Adapun perbedaan kosa kata , lanjut Rost Gaok, kosa kata yang berasal dari Warga Pemalang Selatan, Pemalang Tengah dan Pemalang Timur, merupakan kekayaan Bahasa Pemalang yang harus dipertahankan. Maka dalam rumus dua, empat, satu, kita masukan tiga kosa kata dari masing-masing daerah di Pemalang yang berbeda. Kalau perlu kita buat Kamus Bahasa Pemalang,” demikian disampaikan dalam diskusi yang hangat.

Kustajianto, selaku Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Daerah, dalam sambutanya menyampaikan. Bahwa Arisan Sastra yang kesebelas ini, melanjutkan pendalaman puisi khas Pemalang.

“Komite Sastra meskipun dalam setiap kegiatan dengan biaya iuran peserta, tetap eksis. Untuk membuktikan keberadaan Dewan Kesenian Daerah Pemalang di Masyarakat dan Pemerintah Pemalang. Tanpa bantuan biaya Pemerintah pun tetap berkarya dan terus berkarya. Upaya menggali puisi khas Pemalang, semoga jadi cikal bakal sejarah Sastra Pemalang,” ungkapnya.

Acara ditutup dengan kalimat hamdallah, pada pukul 17.00 Wib, foto bersama dan berjabat tangan serta saling mendoakan agar selamat dalam perjalanan pulang.

(Suhari Putra Senja)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *