KEDIRI.(PENA BERLIAN ONLINE) – Suparman, Sekretaris Desa Jugo membeberkan budidaya tanaman dengan polyback yang mulai tumbuh berkembang di Desa Jugo. Budidaya tanaman dengan polyback ini bukan untuk dikembangkan di desa ini, melainkan dijual keluar desa. Hal ini sangat wajar, lahan di desa ini sudah sangat luas, tidak perlu menanam dengan polyback. jumat (26/10/2018)
Sebagaimana dituturkan Suparman saat penggalian potensi desa lewat TMMD di Kediri, penggunaan polyback ini merupakan kreatifitas warga yang memanfaatkan pekarangannya untuk membudidayakan tanaman berbagai jenis. Warga membuat rak-rak yang terbuat dari bambu, agar polyback bisa lebih banyak tersusun.
Polyback tersebut ditanami berbagai tanaman, dari sayuran, bawang merah, strawberry, hingga slada. Sampai saat ini, budidaya tanaman dengan polyback memang masih berstatus menambah uang belanja rumah tangga, tetapi diyakini Suparman, dalam tempo setahun mendatang, kondisinya bakal berubah menjadi sumber pendapatan utama.
Slada, dijual hingga Rp 10.000,- per polyback. Di Desa Jugo, tanaman slada dengan polyback bisa dijual dalam per harinya menembus angka 30 hingga 50. Dari 30 hingga 50 polyback per harinya, bisa dihasilkan 12 hingga 15 KK, dan jumlah pembudidaya lewat polyback maupun jumlah tanaman slada dengan polyback, diperkirakan akan terus bertambah, seiring minat warga yang mulai melirik bisnis ini.
Suparman mengakui, jumlah 30 hingga 50 tanaman slada dengan polyback ini relatif sangat kecil, lantaran jumlah permintaan dari luar daerah mencapai 400 hingga 500 per harinya. Bila diakumulasikan dengan IDR (Indonesia Dalam Rupiah), omset pendapatan dari penjualan tanaman slada dengan polyback berada di angka IDR 300.000 hingga 500.000 perharinya, dan masih sangat minim untuk menjadi sumber pendapatan utama.
Ia optimis, hanya dalam tempo setahun kedepan, permintaan dari luar daerah bisa tercukupi sekitar 30% hingga 40%. Pangsa pasar utama dari penjualan tanaman slada dengan polyback ini menyasar ke kota Surabaya, Gresik dan Sidoarjo, sedangkan untuk kota Tuban dan Lamongan masih sebatas wacana.
Strawberry, warga mematok harga Rp 50.000,- per kg, dan saat ini, warga hanya sanggup memasok sekitar 3 hingga 4 kg per hari ke supermarket-supermarket di Kediri. Padahal, permintaan dari supermarket tersebut mencapai 12 hingga 15 kg perhari, sedangkan dari luar daerah, khususnya Surabaya, mencapai 20 hingga 26 kg per hari.Untuk tanaman strawberry dengan polyback ini, warga sengaja tidak menjualnya dalam bentuk polyback, melainkan buahnya saja. Pemanfaatan ruang tanam dengan rak-rak yang bisa hingga 5 lapis ini, sengaja dilakukan untuk menambah jumlah tanaman strawberry. (dodik)

