SAMARINDA (Pena Berlian Online) – Muktamar Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) XXX akan dirangkaikan dengan pemilihan ketua umum. Lima kandidat akan bersaing untuk memerebutkan posisi Ketua Umum PB IDI, periode 2021-2024.Diketahui, Muktamar kali ini juga sekaligus mengukuhkan Ketua PB IDI terpilih periode 2018-2021, yakni dr. Daeng M Fakih. Salah satu calon Ketum PB IDI yang akan bersaing di Muktamar IDI XXX ini yakni Dr H Kemas Abdurrohim, MARS, M Kes, SP Ak.
Salah satu anggota IDI dr. Rally Reagen berharap Ketua IDI terpilih nanti berjiwa visioner dan bisa membawa IDI lebih baik, serta memberikan mutu pelayanan kepada masyarakat.“Salah satu kandidat calon ketua umum PB IDI adalah putra daerah Sumatera Selatan Samarinda. Kita berharap kedepan di era digital, dokter dapat lebih meningkatkan pelayanan masyarakat,” ungkap dr. Reagen.
Sementara itu Dr H Kemas Abdurrohim mengatakan pusat ini punya sederet program untuk meningkatkan kesejahteraan dan profesionalitas dokter di Tanah Air.Dalam kesempatan berbincang dengan awak media di Samarinda, Abdurrohim banyak menceritakan persoalan kesehatan di Tanah Air. Mulai dari Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), hingga pendidikan kedokteran di Indonesia.
Abdurrohim pun menjelaskan, Ketua IDI Terpilih di Muktamar XXX ini, tak langsung menjabat. Melainkan menunggu terlebih dulu selama tiga tahun. Hingga masa jabatan Ketum PB IDI yang terpilih di Muktamar sebelumnya, habis.“Jadi memang seperti itu. Ketua Terpilih istilahnya magang dulu tiga tahun sebagai wakil ketua. Memang seperti itu aturannya,” kata Abdurrohim.Abdurrohim sendiri saat ini mengajar di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia.
Selain itu, Abdurrohim juga bertugas di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, sebagai spesialis akupunktur medik.Sekadar informasi, Abdurrohim juga merupakan perintis masuknya dokter tenaga ahli akupunktur, menjadi spesialis, yang akhirnya diakui PB IDI. Abdurrohim pula yang merintis berdirinya program studi (prodi) spesialis akupunktur medik di FK UI.
“Panjang ceritanya. Jadi mulanya saya diminta teman-teman dokter akupunktur untuk memimpin ikatan ahli dokter akupunktur medik. Karena waktu itu belum jadi profesi spesialis. Tugas utamanya hanya dua, yakni menjadikan akupunktur medik sebagai profesi spesialis dokter, dan juga membuka prodinya. Alhamdulillaah semuanya terlaksana,” kata lulusan kedokteran Universitas Sriwijaya, ini.
Abdurrohim memiliki Visi menjadikan anggota IDI sejahtera dan profesional untuk Indonesia lebih sehat di era UHC (universal health coverage) dan globalisasi yang desruptif.“Seperti JKN yang sekarang ini belum membuat dokter tersenyum. Harusnya, JKN ini sudah menerapkan digitalisasi 4.0 dalam sistem pembayarannya. Sehingga mudah, transparan dan akuntabel,” tutur Abdurrohim. (*)

