Episode 3 : Diduga Dikorupsi, Proyek Irigasi Way Rupi Dinas Perairan Lamteng Rusak Parah

LAMPUNG TENGAH ( PENA BERLIAN LAMPUNG )-Pekerjaan proyek rehabilitasi jaringan irigasi Way Rupi Ponpes, UPTD Way Pengubuan, sumber dana APBD Tahun 2017, senilai Rp309 juta lebih, diduga dikerjakan asal jadi.

Pasalnya proyek yang dikerjakan oleh CV. Radjasa Perkasa, kondisinya saat ini sudah rusak parah. Diduga kuat pihak rekanan pemborong tidak memperhatikan kualitas bangunan dan hannya mengejar keuntungan diri untuk memperkaya diri.

Pantauan yang dilakukan kru Penaberlian.com, rehabilitasi  jaringan irigasi Way Rupi Ponpes, UPTD Way Pengubuan, Kabupaten Lampungtengah, sudah mulai rusak parah dan sebagaian bangunan sudah patah serta jebol. Kerusakan tersebut berdasarkan investigasi selain buruknya pengerjaan proyek juga diduga disebabkan lemahnya pengawasan yang dilakukan oleh pihak dinas pengairan setempat serta konsultan pengawas.

Berdasarkan hasil investigasi diduga kuat pekerjaan  yang ada maka talud terlihat duduk ditanah labil atau tidak memiliki kepadatan dan daya dukung dan pondasi talud tidak memiliki kekuatan untuk pembagian beban dan mendukung beban pasangan sehingga talud ambrol patah, dan biasanya secara teknis pada sistem pengerjaan talud pada tanah seperti itu diatas pondasi diberi pinggangan sejenis sloof dengan pasangan besi dan adukan cor beton yang berfungsi untuk menjaga patahan talud terjadi.

Selain itu, nampak pada punggung gajah atau pasangan batu bendungan seharusnya bila menghadapi kondisi tanah seperti itu pada sisi penahan air dan pembuangan diberi bronjong sebagai penahan gerusan tanah, namun pada kennyataan dilapangan pemasangan bronjong tersebut tidak ada.

Pada terjunan atau pelimpasan air serta pada dinding penahan air yang dekat pintu air terlihat secara fisual patah dan hancur hal ini disebabkan karena adanya penggerusan tanah dasaran karena secara teknis setiap penahan air atau punggung gajah penahan air bendungan maka baik dipelimpasan dan di penahan air lantai tanah bendungan yang menjoin atau berhubungan dengan pasangan batu lantai bendungan ada bronjong penahan gerusan tanah dari air.

cor beton plat lantai atau pasangan batu plat lantai yang biasanya di ujung plat ada sepatu pondasi untuk hindari tergerusnya tanah dibawah plat. Nampak secara  fisual dilokasi proyek tidak ada makannya plat dibawahnya tanah merongga dan plat sudah hancur.

Pengerjaan  pada punggung gajah atau pasangan batu bendungan seharusnya bila menghadapi kondisi tanah seperti itu pada sisi penahan air.

Selain itu juga jika dilihat dari fisual dilokasi bangunan,  talud terlihat duduk ditanah labil atau tidak memiliki kepadatan dan daya dukung dan pondasi talud tidak memiliki kekuatan untuk pembagian beban dan mendukung beban pasangan sehingga talud ambrol patah, dan biasanya secara teknis pada sistem pengerjaan talud pada tanah seperti itu diatas pondasi diberi pinggangan sejenis sloof dengan pasangan besi dan adukan cor beton yang berfungsi untuk menjaga patahan talud terjadi.

Berdasarkan hasil keterangan dari sejumlah masyarakat sekitar, proyek rehabilitasi jaringan irigasi Way Rupi Ponpes, UPTD Way Pengubuan, yang dikerjakan oleh, CV. Radjasa Perkasa juga tidak memasang papan nama proyek, sehingga masyarakat tidak mengetaui berapa jumlah nilai proyek yang sedang dikerjakan pada Tahun 2017 lalu.

“Betul pak proyek tersebut tidak memasang plang, jadi kami tidak tau berapa jumlah anggaran untuk pembangunan bendungan proyek irigasi,”jelas salah satu warga yang enggan ditulis namanya pada Minggu (7/10/2018).

Narasumber juga menceritakan, jika dirinya ikut kerja saat pengerjaan proyek. Menurut narasumber pekerjaan proyek yang dilakukan oleh pihak pemborong terkesan asal-asalan.

“Wah kalau cara kami untuk ukuran proyek pemerintah yah belum sesuai, karena waktu pekerjaan proyek seperti asal jadi saja pak. Wajarlah kalau sekarang sudah rusak parah,”tambah narasumber.

Terpisah, pihak mandor pemborong, CV. Radjasa Perkasa, Turmin saat dikonfirmasi melalui via telpon, tidak membantah jika pekerjaannya memiliki kualitas rendah. Namun Turmin justru mennyalahkan dari pihak dinas dan konsultannya.

“Ya jangan hannya mennyalahkan kami mas, pekerjaan tersebut jelek karena memang dari awal perencanaan atau RAB memang sudah tidak sesuai, seharusnya kalau ingin kuat bangunan jangan menggunakan cara seperti itu, kamikan hannya menjalankan perintah apa yang ada digambar,”ungkap Turmin.

Bahkan, Turmin juga mengakui jika adukan semen yang dipergunakan untuk pasangan batu, hannya menggunakan adukan 6 : 1, yang seharusnya menggunakan standar PU yakni emapt banding satu.

“Kalau adukan bener mas kami cuma menggunakan adukan enam banding satu, bukan empat banding satu,”ujarnya.

Selain itu, Turmin juga mengakui bosnya mendapat proyek pada dinas peraitran kabupaten setempat bukan hannya satu melaikan dapat proyek 17 paket.

“Betul mas bos saya pada tahun 2017 lalu, mendapat 17 paket dari Dinas Pengairan yang tersebar disejumlah wilayah di Kabupaten Lampungtengah,”ungkapnya.

Turmin mengatakan, ke-17 paket proyek tersebut yang terbannyak berada di daerah UPTD Way Pengubuan. “Proyek Rehabilitasi jaringan irigasi milik bos saya yang terbannyak berada di UPTD Way Pengubuan,”ujarnya.

Bupati Lampungtengah, Loekman Djoyosoemarto saat dimintai tanggapan terkait masalah tersebut secara tegas mengatakan, untuk pekerjaan proyek Tahun 2018 masih menjadi tanggung jawab pihak kontraktor. Sementara untuk proyek Tahun 2017  menjadi tanggungjawab ppihak yang berkompeten.

“Untuk kerusakan proyek tahun 2018 masih menjadi tanggungjawab pihak kontraktor. Sedangkan untuk 2017, ya pihak yang berkompeten harus bertanggung jawab adinda,”pungkas bupati singkat (Nur/tim).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *