LAMPUNGTIMUR ( PENA BERLIAN ONLINE)-Pembangunan talang saluran irigasi ferocement , di Jabung Kabupaten Lampungtimur, milik Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji Sekampung, yang dikerjakan oleh PT. Indo Teknik, secara Multi Years dari Tahun 2017-2019, bersumber dari dana APBN, senilai Rp60 miliar lebih, diduga kuat proyek uji coba atau penelitian diragukan kekuatannya.
Berdasarkan keterangan dari pengawas lapangan Balai Besar, Wandi proyek ferocement, dengan menggunakan adukan semen dan pasir, hannya dibuat ketebalan sekitar 3 cm. Sementara untuk sambungan joint filler ferocement menggunakan bahan pasir dan aspal dan digoreng.
“Saluran irigasi ferocement tidak dicetak dengan cara stel purus penyambungan, melainkan dengan sambungan joint filler, yang dibuat dari pasir dan aspal lalu di goreng. Cara seperti ini ketika musim panas akan memuai dan musim hujan tambah rapet. Ini hasil karya dari Ansori Jausal ( Dosen Unila Red),”ujar Wandi saat dikonfirmasi diruangkernya pada Kamis (11/10/2018).
Dikesempatan yang sama, Pelaksana teknis (Peltek) Balai Besar setempat, Amin mentakan jika pembangunan irigasi tersebut menelan anggran sekitar Rp54 miliar lebih, dan baru terserap sekitar 30 persen dari nilai proyek yang ada.
“Proyek Pembangunan talang saluran irigasi, di Jabung Kabupaten Lampungtimur, dikerjakan oleh PT. Indo Tehnik, secara Multi Years dimulai dari Tahun 2017 dan diperkirakan akan selesai pada Tahun2019 mendatang. Anggaran tersebut berasal dari dana APBN, senilai Rp54 miliar lebih, dan saat ini pembangunan masih sekitar 30 persen,”ungkap Amin. 
Terpisah, salah satu konsultan ahli yang sudah malang melintang dibidang pembangunan mega proyek, yang minta uuntuk tidak ditulis namanya saat diajak meninjau kelapangan sangat mennyayangkan pekerjaan yang dilakukan oleh pihak Balai Besar Mesuji, yang sedang dikerjakan oleh pihak PT. Indo Teknik.
Pasalnya menurut narasumber, pembangunan talang saluran irigasi ferocement secara fisual mata talang saluran irigasi benar menggunakan saluran cetak ferocemen, memang secara teknis bisa di pakai akan tetapi pada ketebalan plat saluran ferocemen setebal 3 cm dan pada join saluran atau penyambungan saluran seharusnya bila tidak dicetak dengan stel purus penyambungan maka bisa aja gundul tapi diikat antara ujuang talang saluran yang disambungkan dengan plat baja yang tidak mudah berkarat dan dibautkan pada kedua saluran dengan pada dua sisi dinding dan lantai lalu disilent memakai aspal atau silikon yang dimana berfungsi saat terjada getaran atau dorongan oleh kejadian yang tidak diinginkan dikondisi saluran talang terpasang maka penyambungan tidak mudah terlepas atau begeser dan air irigasi yang ada ditalang ndak mudah bocor.
“Pada sistem pengerjaan talang saluran irigasi dengan menggunakan sistem ferocement maka bila ketebalan dinding dan lantai pada perencanaan hanya 3 cm maka yang perlu diingat adalah saluran talang ferocemen yang difungsikan sebagai jalur saluran sekunder irigasi harus diingat bahwa saluran talang ferocemen terletak dialam bebas yang dimana bisa ketimpa pohon yang rubuh atau tertabrak hewan seperti sapi atau kambing, dan dengan ketebalan hanya 3 cm sungguh beresiko bila tidak dilindungi dengan pagar pengaman seperti pagar kawat berduri yang dibentangkan ditiang besi siku yang diletakkan disisi kiri atau kanan atau diberi pelindung dengan pagar hidup dengan bambu,”beber narasumber.
Dia juga mengatakan, pada saat pengecoran pondasi umpakan talang saluran irigasi dengan sistem ferocemen maka selain bila daya dukung tanah rendah dan harus dipasang cerucuk dolken sebagai daya dukung pembantu pada dasaran tanah pondasi.
“Yah standar operasional pengerjaan pondasi beton harus dilaksanakan seperti pasir urug dengan ketebalan 5-10 cm diatas tanah dasar lubang pondasi dan pekerjaan plat beton lantai kerja dengan ketebalan 5-10 cm sesuai ketentuan standar SNI pondasi beton, bukannya yang ada sekarang, ini bisa fatal dan sangat riskan jangka panjangnya nanti,”katanya.
Seharusnya masih kata narasumber menjelaskan, suatu kegiatan pelaksanaan pembangunan yang menggunakan anggaran belanja negara atau daerah yang juga merupakan uang setoran pajak rakyat bukan hanya dibuat berdasarkan dengan perencanaan teknis setelah survey jalur irigasi aja dan dihitung dengan evisiensi biaya tanpa ada dasaran perhitungan dampak lingkungan daerah saluran talang yang akan dikerjakan serta hitungan keawetan atau ketahanan dari material saluran talang yang dibuat.
“Sebab bila talang saluran ferocemen yang dibuat lalu fungsionalnya ndak tahan lama kena patah akibat ketubruk sapi atau ketimpah pohon atau kebocoran air saluran irigasi akibat penyambungan , maka yang dirugikan adalah rakyat itu sendiri,”ungkapnya. 
Narasumber juga berharap, semoga untuk dikemudian hari penggunaan talang saluran irigasi dengan sistem ferocemen dapat dievaluasi ulang dan diperbaiki kembali semua aitem terkait pendukung keamanan dan keawetan mutu saluran itu sendiri baik dimassa pemeliharaan proyek yang hanya 6 bulan atau saat ditahun tahun berikutnya saat saluran tersebut difungsionalkan.
“Jangan hanya terlihat lancar saat proyek berlangsung dan massa pemeliharaan berlangsung tapi saat diserahkan kerakyat maka pemeliharaannya susah dan akhirnya ndak difungsikan oleh rakyat karena kegagalan sistem kenyamanan penggunaan saluran talang irigasi,”pungkasnya.
Catatan : Masalah ini akan terus diungkap hingga tuntas pada edisi mendatang.(Tim).

