Rumah Ketua DPRD Banyuasin Digeledah KPK Terkait Suap untuk Naik Haji

Jakarta – KPK kembali melakukan penggeledahan terkait kasus suap untuk naik haji di Pemkab Banyuasin, Sumatera Selatan. Setelah sebelumnya rumah Sekda Banyuasin, kini giliran rumah Ketua DPRD Banyuasin yang digeledah.

“Penggeledahan di 3 lokasi,” ucap Plh Kabiro Humas KPK Yuyuk Andriati, seperti di lansir dari Detikcom pada Kamis (17/11/2016).

Tiga lokasi yang dimaksud yaitu rumah Ketua DPRD Banyuasin Agus Salam, rumah Kepala Dinas Kesehatan M Hakim di Palembang, dan rumah Kabag Humas Banyuasin Robby Sandes di Palembang. “Dari 3 lokasi penyidik menyita sejumlah dokumen,” sambung Yuyuk.

Sebelumnya, KPK juga melakukan penggeledahan pada Selasa (15/11) dan berlanjut pada Rabu (16/11) ini. KPK menggeledah 3 lokasi yaitu di rumah Sekda Banyuasin, Firmansyah, di Perum Bukit Sejahtera Palembang; rumah Kepala Dinas PU Banyuasin, Abihasan, di Jalan Bambang Utoyo nomor 12 Palembang; rumah Staf PU Banyuasin, Reza Irdiansyah, Jalan Sepakat Seduduk Putih, Palembang.

Kemudian, penggeledahan berlanjut di 3 lokasi lainnya di Kompleks Perkantoran Pemkab Banyuasin, Jalan Sekojo Pangkalan Balai, yaitu Kantor DPRD Kab Banyuasin, Kantor Dinas PU Cipta Karya, dan Kantor Dinas PU Bina Marga.

Pada kasus ini, KPK telah menetapkan 6 orang tersangka. Mereka ialah Yan Anton Ferdian selaku Bupati Banyuasin, Umar Usman, Sutaryo, Zulfikar Muharrami, Rustami dan Kirman.

Yan selaku bupati meminta uang kepada para pengusaha yang hendak mendapatkan proyek ijon di beberapa di dinas di wilayahnya. Ia kemudian menghubungi Rustami yang merupakan Kasubag Rumah Tangga Bagian Umum Sekretariat Pemkab Banyuasin.

Yan meminta Rustami berkomunikasi dengan Umar Usman selaku Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuasin. Lalu Umar mengajak Sutaryo yang merupakan Kasi Pembangunan Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Pendidikan Bidang Program dan Pembangunan Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuasin untuk menghubungi Zulfikar Muharrami selaku Direktur CV Putra Pratama.

Zulfikar ingin mendapatkan proyek ijon tersebut dan diminta memberikan suap untuk kelancaran prosesnya. Selain itu, ada juga seorang bernama Kirman selaku swasta yang bertugas sebagai pihak swasta.

Yan terkena operasi tangkap tangan (OTT) pada Minggu (4/9) lalu. Ia ditangkap sesaat setelah mengadakan kegiatan pengajian dalam rangka dirinya dan istrinya untuk berangkat haji. Dari tangan Yan, KPK menyita uang Rp 299.800.000 dan USD 11.200.

Kemudian KPK menangkap Sutaryo, KPK menyita Rp 50 juta. Sedangkan dari tangan Kirman, KPK menyita bukti setoran biaya haji ke sebuah biro perjalanan haji sebesar Rp 531.600.000.

Please follow and like us:
error20
fb-share-icon0
Tweet 20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *