LAMPUNG TENGAH (PBO) – Pendamping Kampung, Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dan Program Keluarga Harapan (PKH), Payung Makmur, Kecamatan Pubian Kabupaten Lampung Tengah, Didi, Diduga melarikan diri karena ketahuan menggelapkan bantuan milik masyarakat kampung setempat.
Terungkapnya kasus ini berawal dari sejumlah warga kampung setempat, pada beberapa waktu lalu mengaku mendapat informasi dapat bantuan BPNT dan PKH. Namun anehnya ATM nya selama mendapat bantuan ATM tidak diserahkan kepada dirinya melainkan dipegang oleh Dedi dan sejumlah Kepala Dusun serta Sekretaris Kampung yakni, Sholeh.
Dengan emosi warga lalu mendatangi kepala dusun masing-masing serta sekretaris kampung untuk meminta ATM. Ternyata setelah diberikan ATM rekening koran di print oleh warga pada Bulan Desember Tahun 2021 cair Triwulan keempat cair rata-rata Rp1.200.000.
Salah satu Tokoh Masyarakat, M. Elmi dan Istrinya saat dikonfirmasi Pada Rabu ( 15/12/2021) membenarkan jika ATM bantuan warga digelapkan oleh Oknum Pendamping desa.
“Saya selama ini mendapat laporan warga dan hannya sebatas membantu keluhan masyarakat yang katanya ATM bantuannya telah ditahan oleh pihak Pendamping kampung serta Sekretaris Kampung. Setelah saya dan Istri saya menanyakan kepada Kepala dusun ternyata benar ATM ditahan,” katanya.
Kata M. Elmi, karena kasus ini telah mencuat pihak kepala dusun memberikan ATM tersebut. Ada lima orang mengaku kaget setelah mencairkan dana bantuan cair di Triwulan terakhir bulan Desember rata-rata Rp1.200.000. Namun untuk termin pertama sampai termin ketiga telah dicairkan melalui rekening atas nama Sulis Yani.
“Namun masyarakat sampai hari ini tidak tau sulis yani yang tertera di pencairan itu siapa,”jelasnya.
Elmi mengatakan saat ini telah minta tolong dari pihak lembaga bantuan hukum (LBH) untuk mengurus masalah tersebut dan akan melaporkan permasalahan ini kepihak aparat penegak hukum.
“Saya yakin korban yang sama ini banyak tapi sayangnya masyarakat takut untuk melaporkan persoalan ini. Buktinya Sekretaris Kampung saja telah mengaku memegang ATM milik masyarakat sebanyak 30 lebih. Bahkan masyarakat sampai hari ini tidak tau bantuan yang sebenarnya diterima mereka jumlahnya berapa,” katanya.
Ditemui secara terpisah, M. Ismail mengaku mengalami kejadian serupa. Dia mengaku ada beberapa masyarakat setempat, diantaranya yakni, Kartini, Nurhasanah (Almh), Topik Hidayat, Kurniawan, pada tahun 2020 ATM bantuan dipegang oleh soleh dan setiap pencairan hannya diberi 300-500 ribu rupiah saja. Anehnya lagi masih kata Ismail strok pencairan orang satu ada dua strok dan yang dikasih oleh Sholeh hannya satu.
“Memang benar hampir semua ATM ditahan oleh pihak pendamping kampung serta sekretaris kampung. Jangan-jangan pencairan bantuan telah dikorupsi,” tegasnya.
Berita ini belum ada konfirmasi kepada pihak bersangkutan yakni, Dedi dan Sholeh. Redaksi masih mencari nomor kontak dan keberadaan pendamping kampung yang saat ini informasinya telah melarikan diri.(Red).

