Proyek Pemecah Gelombang Milik BBWS Mesuji Sekampung Diduga Salahi Aturan

0
410

LAMPUNG TIMUR ( PENA BERLIAN ONLINE )-Pekerjaan lanjutan pembangunan tanggul pemecah gelombang, Balai BWS Mesuji Sekampung, yang ada di muara gading mas, Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampungtimur, melalui anggaran APBN Tahun 2015 , dengan nomor kontrak : HK 02.07 /03.01/SNVT.PJSAMS/SP.I/IV/2015, senilai Rp.10.145.146.000, dikerjakan oleh PT. Kalapa Satangkal Makmur Sejahtera, diduga kuat tidak sesuai aturan.

Selain itu, diduga kuat pembangunan pantai muara gading mas ( Lanjutan )  dari TA 2014, 2015, dan 2016 berturut-turut dikerjakan oleh satu orang, sisinnyalir meninggalkan masalah karena proyek tersebut kuat dugaan mengurangi volume bangunan, seperti ketinggian batu penahan gelombang tidak sesuai dengan spesifikasi atau RAB karena sangat rendah.

Seperti kita ketahui, berdasarkan data yang diterima kantor berita ini, pekerjaan pembangunan tanggul pemecah gelombang bertujuan mencegah abrasi hingga daratan tidak termakan atau tergerus laut yang di khawatirkan dapat menelan korban.

Kedua untuk mencegah gelombang laut yang besar yang dapat merusak dan menyeret kapal-kapal nelayan dan dapat merugikan nelayan tersebut akibat kapal dan perahu terbawa gelombang laut yang besar sewaktu-waktu musim gelombang besar. Mencegah gelombang laut yang besar yang masuk kepemukiman warga atau penduduk yang dapat menghancurkan pondasi , tombok bangunan warga masyarakat setempat.II. Pembangunan pantai muara gading mas.

Namun berdasarkan data yang ada, pekerjaan pembersihan lapangan diduga tidak dilksanakan seperti pekerjaan galian lumpur yang semestinya diangkat agar lebih menahan dan dapat duduk tidak amblas dan hanyut terbawa gelombang, faktanya batu ditimbunkan saja tampa pembersihan terlebih dahulu.

Terpisah, salah satu narasumber yang dirahasuiakan idetitasnya mengatakan, diduga proyek pekerjaan pemecah gelombang laut, dikerjakan oleh saudara Asep Makmur, sejak Tahun 2014 sampai dengan 2016. Total seluruh anggaran keseluruhan yakni sekitar Rp30 milyar dan dikerjakan tiga tahap.

Namun masih kata narasumber, bannyak sekali ditemukan dugaan kecurangan dalam melaksanakan pembangunan seperti contohnya, pihak pemborong diduga telah mengurangi volume ketinggian, kelebaran dan panjang bangunan, karena saat narasumber survei dilakosi bangunan yang ada di Muara Gading Mas, kondisi bangunan sudah hampir rata dengan air laut.

“Padahal tempat tersebut sangat pital, tempat berlabuhnya para nelayan untuk menghindari gelombang laut yang besar yang akan berakibat patal bagi seluruh para nelayan di seputaran muara gading mas,”ungkap narasumber.

Narasumber menjelaskan, Balai besar SNVT.PJSAMS, setiap tahunnya telah menganggarkan biaya proyek pembangunan tanggul penahan gelombang, guna penahan gelombang besar yang dapat menghancurkan kapal-kapal dan perahu nelayan muara gading mas, namun fakta dilapangan ternyata pihak pemborong diduga mengabaikan kualitas bangunan tersebut.

“Kami juga menduga sejumlah oknum pejabat Balai Besar Mesuji telah bermain mata pada pihak rekanan kontraktor sehingga terkesan pembangunan asal jadi, dan mengabaikan sebab dan akibat yang akan ditimbulkan dikemudian hari,” kata narasumber.

Dia juga membeberkan jika kontruksi timbunan yang di gunakan jauh dari spesifikasi yang semestinya. Kami juga melihat batu bolder di pakai hanya beberapa saja dapat di klasifikasikan, pemasanganpun kurang interkoneksi ( berkaitan ) maka pantas saja bangunan tersebut kurang tertata serta volume ketinggian x lebar x panjang ( diduga menyalahi spek ) tidak sesuai dengan spesifikasi.

“Pertanyaannya mengapa pihak balai besar terkesan tutup mata atas temuan kasus tersebut,  seperti kasatkernya. Selain itu, ada apa pihak balai memenangkanmemberikan pekerjaan yang berturut-turut pada orang yang sama tersebut, sehingga diduga kuat ada unsur kepentingan atau KKN yang sangat kental antara oknum pihak balai besar dengan  atau pemenang tender tersebut,”ujarnya.

Halsenada yang diungkapkan oleh salah satu mantan pekerja proyek tanggul pemecah gelombang, yang minta dirahasiakan idetitasnya mengatakan, jika saat pekerjaan proyek tersebut memang terkesan asal-asalan.

“Saat saya bekerja disana, memang pihak pemborong mengerjakan proyek tersebut terkesan asal-asalan. pasalnya agar tanggul tumpukan batu cepat tinggi pihak pemborong menguruk tanggul tersebut terlebih dahulu dengan tanah sekitar satu meter baru dikasih batu lagi. Saya yakin tanggul tersebut lama-kelamaan setelah dihantam ombak akan ambles, karena tanahnya tergerus dan batunya turun,”ujar narasumber, beberapa waktu lalu.

Narasumber juga menceritakan, jika penjagaan pengerjaan proyek tersebut sangat ketat. Tidak semua awak media dan LSM bisa memasuki kawasan tersebut, karena  pihak kemanan melarang siapa saja yang tidak berkepentingan untuk memasuki lokasi itu.

“Untuk menembus lokasi itu sangat susah. Bahkan pernah ada awak media mengambil gambar lokasi harus memutar dari arah sebarang laut dengan berpura-pura sebagai nelayan,”katanya.

Ditemui secara terpisah pula, salah satu konsultan ahli dibidang kontroksi yang terbiasa menangi proyek tanggul pemecah gelombang, yang minta dirahasikan idetitasnya saat diminta tanggapan kasus tersebut mengatakan, dalam tehnik pekerjaan proyek pemecah gelombangcCerucuk bambu difungsikan untuk menahan pergeseran batu saat penumpukan bayu untuk pemecah ombak atau Great Water.

Namun kata dia, susunan batu untuk dinding pengaman pantai atau pemecah ombak bisa pakai batu border berdiameter ukuran besar atau sedang, akan tetapi penguncian atau pengisian susunan batu biasanya di pakai batu kecil bukan tanah.

“Susunan batu untuk dinding pengaman pantai atau pemecah ombak bisa pakai batu border berdiameter ukuran besar atau sedang, akan tetapi penguncian atau pengisian susunan batu biasanya di pakai batu kecil bukan tanah,”katanya.

Bagian Humas,  Balai BWS Mesuji Sekampung, Nurul saat dimintai tanggapan terkait masalah tersebut, hingga berita ini diturunkan belum ada tanggapan.

Redaksi media ini, akan terus mengungkap sejumlah kasus yang ada di Balai BWS Mesuji Sekampung hingga tuntas. (Tim).

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY