Ketua DPD Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) Lampung Darurat Narkoba,

0
689
(foto istimewa)

Bandar Lampung(PBO)- Indonesia menjadi salah satu negara yang menjadi sasaran empuk pasar besar peredaran dan perdagangan narkoba di dunia. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya jumlah pengguna hingga akhir tahun 2016. Sebanyak 18 ribu orang meninggal dunia sia-sia per tahunnya.

Jenis narkoba yang paling banyak disalahgunakan adalah ganja, ekstasi, dan sabu, yang menyasar pada kelompok yang awalnya hanya mencoba pakai terutama kelompok pelajar, mahasiswa, dan pekerja. Bisnis haram ini sangat menggiurkan bagi sekelompok tertentu karena perputaran uang yang sangat besar. Hal ini sesuai dengan hukum pasar, permintaan semakin besar mengakibatkan suplai yang semakin besar pula.

Sebab itu, pemerintah sudah menabuh genderang perang untuk mencegah dan melawan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba yang belakangan ini terus mengalami peningkatan, bahkan penggunanya pun semakin beragam, lintas usia dan lintas profesi. Ketua DPD Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) Provinsi Lampung Tony Eka Candra mengatakan, Indonesia saat ini sudah bukan lagi darurat narkoba, tetapi sudah ‘bencana’ narkoba.

“Meningkatnya penggunaan narkoba di Indonesia, karena kurangnya pemahaman tentang bahaya dari penyalahgunaan narkoba itu sendiri, dibarengi dengan kurangnya kepedulian masyarakat, dan terkadang aspek penegakan hukumnya pun masih lemah dan tidak berpihak pada rasa keadilan masyarakat,” ujarnya saat dihubungi, Jumat (5/5/2017).

Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Provinsi Lampung ini menegaskan, pemerintah pun dianggap gagal untuk mencegah masuknya barang haram tersebut ke Indonesia. “Begitu banyak pintu masuk yang tidak resmi, terutama dari jalur laut, karena luasnya bentangan pantai di Indonesia, hingga banyak yang tidak terpantau oleh aparat penegak hukum kita, bisa masuk dari pelabuhan-pelabuhan tikus yang jumlahnya sangat banyak,” terangnya.

Pemegang sabuk hitam (DAN VI) Karateka ini mengatakan, pengguna narkoba saat ini, sekitar 5,9 juta jiwa, sebesar 22 persen di antaranya adalah para pelajar dan mahasiswa calon penerus generasi bangsa, sebagian lagi masih dalam usia produktif. Pecandu narkoba tersebut sebagian kecil saja yang dapat pulih kembali kepada kehidupan normal, karena sebagian berakhir idiot dan menjadi beban keluarga, beban masyarakat sekaligus beban negara, bahkan banyak yang menunggu kematiannya.

“Setiap hari 50 orang mati sia-sia karena narkoba, bahkan mencapai 18 ribu orang setiap tahunnya,” ungkapnya. Oleh sebab itu, diperlukan metode yang masif terpadu dan berkesinambungan dalam rangka mencegah kejahatan, peredaran gelap, dan penyalahgunaan narkoba, selain itu juga dibutuhkan dukungan dan partisipasi dari segenap masyarakat dan segenap komponen bangsa.

Menurutnya, ada empat metode yang harus dilakukan secara bersamaan.

“Pertama Preemtif, dengan melakukan cegah dini untuk menyampaikan informasi yang seluas luasnya kepada masyarakat tentang bahaya penyalahgunaan narkoba, agar timbul kesadaran untuk tidak menggunakannya, upaya ini biasa disebut “KIE” Komunikasi, Informasi dan Edukasi,” tuturnya.

Kemudian Preventif, yaitu upaya mencegah masuknya barang haram narkoba ke Indonesia, baik melalui jalur darat, bandara, pelabuhan, dan pintu-pintu masuk pelabuhan tikus di sepanjang bentangan pantai yang ada di Indonesia.

“Kurangnya aparat penegak hukum, bisa dilakukan upaya dengan melibatkan partisipasi dan dukungan masyarakat(*)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY