Diduga Tidak Ada Ketegasan Pemkab Mesuji, Kehidupan Warga Sungai Cambai Makin Terpuruk

0
615
Foto Istimewa

MESUJI-Kehidupan warga Desa Sungai Cambai, Kecamatan Mesuji, Kabupaten Mesuji, tak kunjung sejahtera, bahkan mungkin kesejahteraannya menurun. Salah satu sebab berlarut-larutnya konflik tanah dengan perusahaan perkebunan PT Prima Alumga (PPA) yang tak juga kunjung selesai. Bahkan Masyarakat merasa seperti tidak memiliki pemimpin yang bisa mengayomi mereka.

Konflik warga dengan perusahaan itu sudah berjalan empat tahun lebih, atau sejak kesepakatan pengembalian lahan tahun 2012 lalu. Tapi, hingga kini belum ada titik penyelesaiannya. Masyarakat menginginkan perusahaan perkebunan kelapa sawit anak perusahaan Sagna Grup itu mengembalikan lahan seluas sekitar 2.000 hektare lebih.

Salah satu tokoh pemuda Desa Sungai Cambai,Rival (25), mengatakan, kehidupan ekonomi warga makin sulit karena ketidakpastian lahan. Warga tidak bisa optimal memanfaatkan lahan miliknya karena masih sengketa.

“Kami merindukan peran dan perhatian pemerintah, tolong bantu kami mewujudkan keadilan dan kesejahteraan. Pemerintah harus ikut memperjuangkan hak kami, karena konflik ini berbuah kesengsaraan bagi warga. Kami ingin ada solusi yang menguntungkan bagi kedua belah pihak, apalagi kesepatan itu bakal menyejahterakan warga,” katanya, seperti dilansir dari ragamlampung.com pada Sabtu (19/11/2016).

Menurut Rival, salah satu penyebab alotnya penyelesaian konflik karena ada ketidaksepahaman di masyarakat. Ada masyarakat yang menginginkan kemitraan dan kelompok plasma. “Gimana mau selesai kalau masyarakat di sini terbelah jadi dua seperti itu,” kata dia.

Tokoh masyarakat lainnya menyarankan pemerintah tegas menyelesaikan masalah lahan ini, karena jika terus dibiarkan berkepanjangan, akan menyebabkan kesengsaraan masyarakat setengah.

“Jangan setengah-setengah kalau berbuat. Pemerintah harus bisa mewujudkan lesejahteraan bagi masyarakat sebelum terlambat,” ujarnya.

Halsenada diungkapkan oleh, Bi Sia (55), warga Desa Sungai Cambai yang hidup menjanda menuturkan kehidupannya memang makin sulit, apalagi setelah ada sengketa lahan dengan perusahaan.

Saat ditemui di rumahnya, ia sedang makan hanya dengan pindang ikan seluang dan nasi dari beras raskin. “Saya sudah biasa makan seadanya seperti ini. Tapi, alhamdulillah Allah masih memberikan kesehatan untuk saya,” tutur dia. (Red)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY