Demonstrasi PMII di DPRD Provinsi Ricuh, Begini Ceritanya…

0
361

BANDAR LAMPUNG  (PENA BERLIAN ONLINE)—Demonstrasi Aksi penolakan terhadap Undang-undang MPR, DPR, DPD dan DPRD (MD3) juga terjadi di Lampung. Massa aksi yang berjumlah ratusan orang mendatangi gedung DPRD Lampung untuk menyuarakan penolakan terhadap UU tersebut, Selasa, 6 Maret 2018.

Massa yang sebagian besar merupakan mahasiswa tersebut tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Mereka sempat bersitegang dengan aparat keamanan yang berjaga.

Kericuhan pun tidak terhindarkan. Sampai terjadi pemecahan kaca pintu gedung DPRD Lampung.

Salah seorang saksi mata Iyus mengungkapkan, awalnya massa yang datang tidak menunjukkan tanda-tanda akan terjadi bentrokan dengan aparat keamanan. Namun, setelah beberapa saat berorasi, tiba-tiba massa saling dorong dengan aparat dan terjadi pemecahan kaca pintu.

“Saya tidak melihat langsung pemecahan kacanya tadi. Tapi katanya itu tadi ditendang pas dorong-dorongan. Nggak tahu juga siapa yang tendang kacanya,” ucap Iyus di lokasi kejadian.

Setelah aksi dorong-dorongan dan kaca pintu pecah tersebut, peserta aksi terlihat duduk-duduk di tangga menuju pintu masuk gedung DPRD Lampung. Sebagian lagi terlihat masih berorasi menyuarakan pendapatnya.

Kemudian, tujuh orang perwakilan dari PMII diminta untuk bertemu Ketua DPRD Lampung Dedi Afrizal dan Wakil Ketua Ismet Roni.

Ketua DPRD Lampung Dedi Afrizal menjelaskan kronologi terjadinya aksi pemecahan kaca yang diduga dilakukan oleh peserta aksi. Menurut Dedi, saat aksi unjuk rasa terjadi, perwakilan dari DPRD Lampung yakni anggota Komisi I yang diwakilkan oleh Azwar Saparudin, Lazuardi Alwi, Madani Umar, mencoba menemui massa peserta aksi.

 “Ketika pertemuan di luar (gedung DPRD), massa aksi meminta agar anggota dewan menandatangani kesepakatan untuk menolak UU MD3. Tetapi kan teman-teman dari Komisi I tidak bisa begitu saja menandatangani itu. Akhirnya, karena teman-teman melihat situasi sudah tidak kondusif, mereka masuk ke dalam,” cerita Dedi.

Tetapi ternyata, masuknya ketiga anggota Komisi I tersebut ditafsirkan berbeda oleh massa peserta aksi. Sampai akhirnya massa mengejar ketiganya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam.(Djumadias/rls).

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY