Dang Gusti Ike Edwin : Lamban Gedung Kuning Rumah Adat Lampung

0
383
Perdana Menteri Kesultanan Adat Lampung Skala Beghak, Dang Gusti Ike Edwin (Foto Doc Pena Berlian).

Bandar Lampung (Pena Berlian Online) – Adat istiadat Lampung, khususnya kerajaan Sekala Bekhak memiliki keistimewaan tersendiri. Tak hanya berbicara sejarah dan kebudayaannya yang unik, rumah adat Lampung juga memiliki daya tarik yang kuat dan menjadi salah satu warisan budaya yang harus dilestasikan.

Tidak terkecuali rumah adat Lamban Gedung Kuning yang menjadi kediaman Perdana Menteri Kesultanan Adat Lampung Skala Beghak Dang Gusti Ike Edwin. Berlokasi di Sukarame, Kota Bandar Lampung, Lamban Gedung Kuning menjadi salah satu ikon dari Kerajaan Sekala Bekhak.

Tak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal sang Perdana Menteri, Lambang Gedung Kuning juga menjadi rumah adat bagi masyarakat Lampung. Demikian diungkapkan Mantan Kapolda Lampung tersebut, saat diwawancarai oleh kru Media Duta Lampung, pada Senin (29/4/2019).

“Lamban Gedung Kuning merupakan rumah adat milik masyarakat Lampung, rumah adat adalah lambang perlindungan, Lambang pengayoman , lambang mupakat musyawarah dan lambang kebersamaan serta lambang kedamaian,” ujar Dang Gusti Ike Edwin, panggilan akrab Irjen Pol. Dr.Drs. Hi. Ike Edwin, SH.Mh, yang notabenenya sebagai Staff Ahli Kapolri.

Selain sebagai lambang rumah adat, Dang Gusti Ike Edwin juga mengatakan Lamban Gedung Kuning juga sebagai destinasi wisata adat Lampung, bagi masyarakat provinsi setempat ataupun para wisatawan yang pernah berkunjung ke Lampung, Lamban Kuning atau Istana Kesultanan Adat juga menjadi miniatur, pusat budaya Sang Bumi Ruwa Jurai, Kerajaan Sekala Beghak.

Eksistensi Lamban Kuning ( Istana Kuning) tersebut tak terlepas dari upaya Perdana Menteri Kesultanan Adat Lampung Skala Beghak Dang Gusti Ike Edwin yang tiada henti-hentinya di dalam segala kesempatan selalu “berkampanye” melestarikan soal budaya Lampung.

Karenanya keberadaan Lamban Kuning adalah juga benteng budaya Lampung dalam mengantisipasi gencarnya westernisasi atau budaya kebarat-kerabatan. Salah satu indikasinya Sahlisospol Kapolri tersebut acapkali mengungkapkan keprihatinannya, kini anak muda Lampung kian enggan mempergunakan bahasa ibunya.

“Sebab itu bukanlah tanpa alasan jika Lamban Gedung Kuning, kami bangun di Bandarlampung. Agar khalayak khususnya para generasi milenial dapat dengan mudah belajar local wisdom ( kearifan lokal ) Lampung,” ujarnya.

Sehubungan dengan hal itu, lanjut Dang Gusti Ike Edwin panggilan akrab Irjen Pol. Dr.Drs.Hi.Ike Edwin, SH,MH, pesona Istana Lamban Kuning yang beralamat di Jl.Pangeran Suhaimi, Sukarame, Bandarlampung, dibangun dengan dipenuhi ornamen khas khazanah masyarakat adat bumi Ruwa Jurai : Pepadun dan Saibatin, serta dilengkapi dokumentasi sejarah dan seringkali menggelar acara adat Lampung agar penggunjungnya dapat dengan mudah mempelajari seluk beluk budaya bumi Ruwa Jurai.

“Dan Alhamdulilah, tingkat antusias generasi muda terbilang masih tinggi. Ini terbukti Lamban Kuning semakin ramai saja didatangi generasi muda dari tingkat Taman kanak-kanak (TK), hingga Universitas untuk belajar budaya Lampung,” katanya.

Terpisah, Sultan belunguh ke-27, saat dimintai tanggapan terkait rumah adat Lamban Gedung Kuning mengatakan, Kerajaan Sekala Beghak itu keberadaannya di Lampung barat, Jika ingin ke Lampung barat jarak tempuhnya jauh serta sangat sulit melakukan perjalanan ke arah sana. Untuk sampai kesana masih kata dia, harus melewati jalan yang berbelok-belok, serta melewati tebing pegunungan sehinga sangat melelahkan serta mengganggu kesehatan.

“Jalanan juga belum begitu bagus sehingga para sultan Yang Mulia ( YM) Sultan Belunguh ke-27, YM Sultan Edward Syahpernong yang ke-23 Sultan Nyerupa yang ke-24, Sultan Bejalan di Way ke-21, sepakat untuk di Bandar Lampung, dibangun perwakilan Kerajaan Sekala Brak, maka dari kesepakatan tersebut dibuatlah Gedung Lamban Kuning, yang ada di Sukarame, Bandarlampung,” ujar Sultan belunguh ke-27, pada (29/4/2019).

Sultan belunguh ke-27 menuturkan, nama Gedung Lamban Kuning berasal dari bahasa Lampung dengan arti, Istana Kuning, karna hampir semua bangunan di cet warna kuning. Ciri has warna kuning juga memiliki makna keagungan.

“Itulah sejarah awal dibangunnya gedung lamban kuning. Kami hanya mengganti saja, sebab selama ini jika ada masyarakat atau turis yang ingin berkunjung di kampung tua tempat kerajaan sekala beghak yang asli terlalu jauh, kadang-kadang orang dari luar daerah dengan waktu yang terbatas mau tau Kerajaan Sekala Berak, karena memakan waktu perjalanan hingga 6-7 jam, belum lagi arah pulang sehingga bisa butuh waktu sehari-semalam, juga bisa mengganggu kesehatan,” pungkasnya. (Yahya/Albas).

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY